Jumat, 06 Februari 2015

HIDUP MENURUT KACAMATA BUDHA


HIDUP MENURUT KACAMATA BUDHA


Menurut agama Buddha terdapat 3 tujuan hidup manusia yaitu:1. Tujuan sementara yang manfaatnya dapat dinikmati sekarang (ditthadhammikattha)2. Tujuan spiritual yang manfaatnya dapat diperoleh kemudian (samparayikattha)3. Tujuan tertinggi yang manfaatnya paling besar (paramattha)
Yang termasuk ditthadhammikattha adalah sbb:1. Memiliki hidup sehat, tubuh yang segar/bugar, terbebas dari segala penyakit dan panjang usia. Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan:a. melaksanakan pola hidup sehat (mengkonsumsi makanan & minuman yang bergizi dalam jumlah yang tidak berlebihan (hidup bukan untuk makan/minum tetapi makan/minum untuk hidup), olah raga secara teratur, tidak menggunakan zat2 yang merugikan kesehatan seperti alkohol & rokok,dsb)b. Rajin mengikuti puja bakti di vihara atau rumahc. Sering menolong makhluk lain yang sedang sakit/menderitad. Mengendalikan diri untuk tidak melanggar Pancasila (terutama sila kesatu dan kelima)e. Rajin bermeditasi, berusaha melepaskan diri dari stres kehidupan, mengembangkan cinta kasih, hidup dalam keseimbangan.
2. Memiliki pekerjaan dan penghasilan, hidup lurus penuh kejujuran dan secara ekonomi tidak bergantung pada orang lain. Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan:a. Bekerja/berusaha secara profesional, memiliki bidang keterampilan dan menguasai bidang usaha yang ditekuni, ulet, bersemangat, dan tidak mudah menyerahb. Tidak pernah berhenti belajar, selalu berusaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, waspada terhadap segala tantangan dan ancamanc. Hidup hemat, sederhana, rajin menabung, membeli barang yang dibutuhkan bukan membeli barang yang diinginkand. Menjaga dan memelihara harta yang telah dimiliki dan membelanjakannya sesuai dengan kemampuane. Rajin berdana materi (membantu pembangunan vihara/cetiya/sekolah, membantu penerbitan buku2 Dharma, menyediakan 4 kebutuhan pokok Sangha, membantu korban bencana,dll)f. Tekun menjalankan Pancasila (terutama sila kedua dan keempat)
3. Memiliki status sosial yang baik dan dihormati oleh masyarakat sekitar. Kondisi ini hanya dapat diperoleh melalui:a. Sikap murah hati, banyak membantu makhluk lain yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan. Kedudukan/jabatan yang tinggi, kekayaan yang melimpah, gelar akademik yang berderet bukan merupakan jaminan akan dihormati orang, tetapi suka menolong dan peduli pada semua makhluk akan menimbulkan rasa hormat dan lebih dihargai.b. Memiliki moral yang baik (tekun melaksanakan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari)c. Tidak melakukan perbuatan tercela, ramah tamah dalam ucapan dan rendah hatid. Tidak bergaul dengan orang "dungu" (jahat), menghindari perjudian dan menjauhi narkoba
4. Memiliki keluarga yang bahagia/harmonis dengan reputasi terpuji. Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan:a. Setiap anggota keluarga melaksanakan kewajibannya dengan baik (lihat Sigalovada Sutta)b. Setiap anggota keluarga saling mendukung, saling membantu dalam berbuat kebajikan, saling menolong dalam kesulitanc. Membantu mendamaikan keluarga2 lain yang sedang berada dalam kemelutd. Secara bersama-sama melaksanakan kewajiban bagi kepentingan kemanusiaan/keagamaan dengan bersemangat dan terus meneruse. Anak terus mengulangi melakukan perbuatan baik yang telah dilakukan oleh orang tua atau leluhurnya yang telah meninggal dunia
Yang termasuk samparayikattha adalah sbb:1. Memiliki kehangatan, kegembiraan dan penuh simpati (perasaan yang muncul karena memiliki keluarga yang harmonis dan sahabat2 yang baik)2. Memiliki rasa bangga dengan hidup yang bersih (tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum negara, tidak membuat makhluk lain menderita,dll)3. Memiliki rasa bahagia dengan hidup yang berguna oleh karena selalu melakukan hal yang bermanfaat melalui pengorbanan (kesediaan untuk berkorban demi kepentingan umum atau makhluk lain)4. Memiliki keberanian dan penuh percaya diri dalam mengatasi berbagai masalah, menjalani hidup dan melaksanakan semua kewajiban dengan bijaksana (hidup ini dijalani dengan tidak banyak mengeluh, kewajiban tidak dianggap sebagai beban, kewajiban dipikul secara seimbang dan sesuai dengan kemampuan, mengatasi segala kesulitan dengan senyum di bibir dan ketabahan di hati)5. Memiliki rasa aman dan penuh keyakinan karena adanya jaminan untuk kehidupan yang akan datang sebagai akibat dari melakukan perbuatan2 baik dalam kehidupan sekarang
Yang termasuk paramattha adalah sbb:1. Memiliki batin yang aman, damai dan tenang, tidak tergoyahkan oleh berbagai kondisi duniawi atau ketika berhadapan dengan pergantian/perubahan2. Tidak terganggu oleh kemelekatan/keterikatan yang mengakibatkan ketidakpuasan/kesedihan, memiliki batin yang jernih, ringan dan bebas3. Bersemangat, riang, tidak pernah cemberut, tidak berputus asa, selalu berseriseri dan terbebas dari penderitaan4. Menyadari sepenuhnya proses sebab dan akibat, bertindak dalam keselarasan, hidup tanpa cela, menuntun diri dengan bijaksana.
KEHIDUPAN TIDAK PASTI, NAMUN KEMATIAN ITU PASTI
(LIFE IS UNCERTAIN, DEAD IS CERTAIN)

Sang Buddha bersabda: “Kehidupan tidak pasti, namun kematian itu pasti”. Setelah menyadari dengan jelas bahwa kematian pasti akan datang dan merupakan suatu akhir yang wajar, serta harus dihadapi setiap makhluk maka sebenarnya kita tidak perlu takut akan kematian. Namun, kenyataannya masih banyak diantara kita yang merasa takut menghadapinya. Karena itu kita tidak ingin mengingat-ingat bahwa kematian itu tak terelakkan dan kita ingin terus melekat pada kehidupan tercinta ini.

Lahirnya seorang anak ke dunia membawa kebahagiaan dan kegembiraan bagi seluruh sanak keluarganya. Bahkan, sang ibu merasa sangat puas dan bahagia walau ia harus menanggung penderitaan yang hebat pada saat melahirkan. Ia merasa semua kesulitan dan penderitaan yang dialaminya cukup berharga untuk itu. Namun, sang anak pada waktu kelahirannya di dunia ini juga menunjukkan penderitaan yang turut ditanggungnya dengan menangis.

Kemudian sang anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Ia melakukan berbagai perbuatan baik dan buruk. Dari dewasa kemudian menjadi tua dan akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini dengan meninggalkan sanak keluarga dalam kesedihan yang dalam. Demikianlah alur kehidupan seorang manusia yang senantiasa berusaha membebaskan diri dari perangkap kematian ini, namun tak seorangpun yang mampu mengatasinya. Dengan pikiran yang berputar-putar di sekitar tabungan kekayaan yang telah dikumpulkannya dan terus-menerus mengkhawatirkan anak-anak tersayang yang berkumpul mengelilinginya, serta tidak ketinggalan pula selalu menjaga dan memperhatikan kesehatan tubuhnya.

Akan tetapi walaupun telah dirawat dengan hati-hati dan penuh perhatian, tetap akan kian lapuk dan melemah, yang akhirnya menimbulkan suatu kesedihan harus berpisah dengan tubuhnya tercinta. Hal demikian memang sukar diterima oleh kita, namun tak dapat dihindarkan oleh setiap orang, dan cara yang biasa ditempuh oleh kebanyakan orang dalam meninggalkan dunia ini adalah dengan keluh kesah dan ratap tangis. Kematian yang datang tiba-tiba telah dipandang sangat menakutkan, dan sikap ini timbul karena ketidak-tahuan mereka.

RASA TAKUT TERHADAP KEMATIAN
Manusia merasa terganggu bukan hanya diakibatkan oleh sebab-sebab dari luar, tetapi juga oleh sebab-sebab dari dalam, seperti misalnya pandangan mereka terhadap kematian. Hal ini sebenarnya tidak perlu ditakutkan, karena rasa takut dan ngeri hanya muncul di dalam pikiran kita. Keharusan untuk menerima kenyataan akan penderitaan sering menyakitkan, terutama bagi pikiran yang tidak mampu menghadapinya. Namun, hal ini dapat membantu mengurangi atau menghilangkan perasaan takut dalam menghadapi kematian. Sekali kehidupan dimulai, akan terus berlangsung seperti peluru yang meluncur menuju ke sasarannya, yaitu kematian.
Setelah menyadari hal ini, kita harus berani berhadapan muka dengan kefanaan kita sendiri, dan apabila kita ingin dipandang sebagai manusia yang bebas dalam kehidupan, maka kita harus bebas dari rasa takut terhadap kematian. Kita telah mengetahui bahwa ilmu pengetahuan mengajarkan tentang proses kematian, yakni bahwa kematian hanya merupakan suatu proses pelapukan fisik dari tubuh manusia. Karena itu kita tidak perlu membohongi diri sendiri dengan bayang-bayang atau khayalan-khayalan menyeramkan yang tak pernah terwujud. Seorang dokter termasyur, Sir Williams Oslet mengatakan: “Menurut pengalaman saya yang cukup lama di bidang kedokteran, sebenarnya banyak orang yang meninggal tanpa rasa sakit atau takut.” 

Seorang perawat berpengalaman menceritakan pengalamannya sebagai berikut: “Bagiku selalu tampak sebagai suatu tragedi besar bahwa demikian banyak orang yang sepanjang hidup mereka dihantui ketakutan akan kematian, namun ketika saatnya tiba mereka akan menyadari bahwa kematian sama wajarnya seperti kehidupan itu sendiri dan hanya sedikit orang yang merasa takut pada saat menjelang kematiannya. Sepanjang pengalaman saya, hanya satu orang yang kelihatannya merasa ngeri, yakni seorang wanita yang telah berbuat salah terhadap saudara perempuannya, dan kesalahan itu sudah terlambat untuk diperbaiki kembali. Sesuatu yang indah dan mengherankan terjadi pada mereka yang telah tiba di penghujung jalan kehidupan mereka; semua rasa takut dan kengerian hilang lenyap. Saya seringkali mengamati kebahagiaan yang terpancar dari mata mereka pada saat-saat terakhir kehidupan mereka.

Kemelekatan terhadap kehidupan di dunia telah menciptakan rasa takut yang tidak wajar atas kematian, juga dapat menciptakan orang-orang Hypochordriac, yakni orang yang tidak pernah berani mengambil resiko, bahkan untuk sesuatu yang benar sekalipun. Orang-orang seperti itu hidup dalam ketakutan bahwa sesuatu penyakit atau kecelakaan dapat memutuskan hidup mereka yang begitu berharga dan sangat dicintainya. Dengan menyadari bahwa kematian tidak terelakkan, maka orang-orang yang mencintai hidup di dunia ini akan pergi berdoa untuk menyatakan harapan mereka, agar jiwa mereka diterima di surga. Namun, tak seorangpun dapat berbahagia dengan godaan rasa takut dan harapan seperti itu. Akan tetapi nampaknya sukar bagi kita untuk mencela atau tidak mau tahu atas segala perwujudan naluriah untuk keselamatan diri mereka tersebut.

Hanya ada satu cara untuk mengatasi hal tersebut, yakni dengan cara melupakan kepentingan pribadi dan berusaha menolong orang lain disertai pancaran kasih sayang dari dalam diri kita, yaitu dengan mengembangkan pelayanan kemanusiaan dan mencurahkan kasih sayang terhadap semua makhluk. Karena melalui peningkatan pelayanan terhadap orang lain, maka anda akan segera menyadari sendiri bahwa segala harapan dan kemelekatan yang mementingkan diri sendiri, kesombongan dan anggapan hanya diri sendiri benar adalah tidak bermanfaat sama sekali.

PENYAKIT DAN KEMATIAN
Diserang penyakit ataupun kematian merupakan gejala-gejala yang wajar dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita dan semua itu harus diterima dengan keseimbangan batin. Menurut teori Ilmu Jiwa Modern, tekanan mental yang berat dan hebat disebabkan oleh penolakan kita untuk menghadapi dan menerima kenyataan-kenyataan hidup. Tekanan-tekanan tersebut bila tidak diatasi akan dapat menimbulkan penyakit fisik yang hebat, dan apabila kita membiarkan perasaan cemas dan sedih yang tidak pada tempatnya dalam menghadapi suatu masalah, malah akan dapat
memperburuk keadaan.

Kematian tidak seharusnya ditakuti oleh mereka yang bersih dalam pikiran dan perbuatan. Kita hanya merupakan bagian kehidupan dari alam semesta, oleh karena itu pada hakekatnya tidak ada suatu pribadi individu yang meninggal dunia. Sisa-sisa karma sebagai hasil buruk yang muncul dari perbuatan jahat di masa lampau dapat mengikuti kita pada kelahiran kita yang berikutnya, dan menyebabkan kita harus memikul penderitaan akibat karma pada kehidupan yang lalu.

Kejadian semacam itu dapat dihindari jika kita selalu berusaha mengumpulkan jasa-jasa kebaikan, dengan cara menjalani kehidupan yang baik dan banyak melakukan perbuatan baik di mana saja dan setiap saat bila memungkinkan. Dengan melakukan hal itu kita dapat menghadapi masa depan tanpa rasa takut dan penuh keyakinan. Kita harus berani menghadapi dan menerima kenyataan, sesuai dengan ajaran Sang Buddha bahwa tidak ada “Juru Selamat” yang dapat diserahkan untuk memikul beban kita agar terbebas dari akibat perbuatan jahat yang pernah kita lakukan.

Kita harus kerapkali mengingatkan diri sendiri akan nasihat Sang Buddha: “Jadikanlah dirimu sebagai pulau dan pelindung bagi dirimu sendiri dengan bekerja dan berusaha yang giat”. Umat Buddha tidak seharusnya tenggelam ke dalam ratap tangis dan kesedihan yang hebat dalam menghadapi kematian dari sanak saudara ataupun teman-teman mereka, karena roda kehidupan terus berputar tanpa hentinya. Bila seseorang meninggal dan hasil perbuatannya (karma) menjadikannya suatu makhluk baru, mereka yang ditinggalkan harus menerima kematian tersebut dengan ketenangan, keluhuran budi dan pengertian bahwa kematian hanya merupakan suatu proses yang tak terhindarkan di dunia ini.

Hal ini merupakan sesuatu yang pasti terjadi di alam semesta, dan kita tahu bahwa hutan bisa menjadi kota dan kota dapat menjadi padang pasir, serta gunung dapat berubah menjadi danau.

Ketidak pastian terdapat di mana-mana, namun hanya ada satu hal yang pasti, yakni “kematian” dan semua hal lain hanyalah bersifat sementara. Kita semua mempunyai nenek moyang dan nenek moyang kita pun mempunyai nenek moyang juga, namun di mana mereka kini berada? Mereka telah pergi ke “Gerbang Kematian”.

Janganlah menganggap bahwa pandangan pesimis terhadap kehidupan yang dimunculkan di sini merupakan pandangan yang paling sesuai dengan kenyataan dari semua kenyataan. Untuk apa kita menghindari diri dari kenyataan dan menutup mata kita terhadap suatu kenyataan yang sudah pasti, karena bukankah kematian itu mencakup segala hal? Maka janganlah kita sampai melupakannya. Peranan kematian adalah untuk menyadarkan setiap manusia akan akhir kehidupannya, bahwa betapa tinggi pun tempatnya, apapun bantuan teknologi ataupun Ilmu Kedokteran yang dimilikinya, pada akhirnya tetap harus mengalami hal yang sama, apakah di dalam kubur ataupun menjadi segenggam debu. Haruskah karena hal itu kita kemudian mengenakan kain karung dan meratapi kehidupan yang telah menjadi debu? Tidak! Hal demikian bukanlah merupakan tujuan hidup, bukan pula tujuan dari kematian, karena proses kelahiran dan kematian akan terus berlangsung hingga kita mencapai kesempurnaan batin.

EKSISTENSI PENGARUH MANUSIA

Sang Buddha berkata: “Tubuh manusia dapat berubah menjadi debu, namun pengaruhnya tetap bertahan”. Pengaruh kehidupan yang telah berlalu kadang-kadang dapat menjangkau waktu yang lebih jauh dan lebih potensial bila dibandingkan dengan masa hidup seseorang yang mempunyai batas-batas waktu tertentu. Seringkali kita bertindak berdasarkan ilham dari kepribadian-kepribadian yang pemiliknya telah menjadi debu. Dalam tindak-tanduk kita hasil-hasil pikiran mereka juga memainkan peranan penting. Setiap manusia yang hidup di dunia ini dapat dikatakan merupakan susunan dari semua nenek moyang yang telah mendahului kita. Dengan anggapan semacam ini, maka para pahlawan di masa lampau, para filsuf terkemuka, para pertapa, penyair dan para seniman musik dari keturunan apapun, karya mereka tetap ada bersama kita.

Bila kita menghubung-hubungkan diri sendiri dengan orang-orang suci dan para pemikir di masa lampau kita dapat memperoleh kebijaksanaan hasil pemikiran mereka, ide-ide mulia mereka dan bahkan musik klasik yang abadi. Karena walaupun tubuh mereka sudah lama musnah, namun pengaruh mereka masih tetap hidup hingga kini. “Tubuh” ini bukan merupakan apa-apa selain perwujudan abstrak dari kombinasi unsur-unsur kimia yang terus-menerus berubah. Maka insan manusia yang menyadari bahwa hidup mereka hanya seperti setetes air di sungai yang terus mengalir, akan merasa bahagia bila dapat memberi andil bagi arus besar yang disebut kehidupan.

Insan manusia yang lupa akan kewajaran hidup mereka akan terhempas di dunia ini. Ia meratap, bersedih dan kadang-kadang tersenyum hanyalah untuk menangis kembali. Namun bila ia menyadari akan kewajaran hidup yang sesungguhnya, maka ia akan melepaskan semua benda-benda yang bersifat sementara untuk mencari keabadian, ia harus menghadapi kematian yang berulang-ulang, karena kematian itu sendiri sukar untuk dihindari. Tidakkah manusia harus berusaha untuk mengatasi putaran kelahiran dan kematian yang terus-menerus ini?

Menurut agama Buddha, kehidupan kita bukanlah kehidupan pertama atau terakhir yang harus kita jalani di dunia ini. Jika kita berbuat baik, maka akan mendapatkan hidup yang lebih baik pada kehidupan mendatang. Di samping itu, bila kita tidak ingin terlahir kembali, maka harus berjuang mencapai kebebasan akhir dengan selalu berusaha mengikis semua kekotoran batin yang ada pada pikiran kita.



FILSAFAT AGAMA BUDDHA
Para orang suci yang telah mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi tidak meratapi meninggalnya sanak kerabat mereka, karena mereka telah mengikis habis semua emosi manusiawinya. Yang Ariya Arahat Anuruddha tidak menangis ketika Sang Buddha Gotama wafat, namun Yang Ariya Ananda yang ketika itu baru mencapai tingkat kesucian Sotapanna atau Yang Masih Belajar, telah menunjukkan kesedihannya. Bhikkhu Ananda yang bersedih tersebut masih harus diingatkan mengenai pandangan Sang Buddha terhadap kematian melalui kata-kata sebagai berikut:

“Ananda, bukankah Sang Buddha pernah mengatakan pada kita bahwa segala sesuatu yang dilahirkan, yang muncul, yang terbentuk, akan lenyap kembali? Ini merupakan sifat dari semua bentuk yang bersyarat, yakni muncul dan akan lenyap kembali. Dengan menyadari bahwa semua itu akan lenyap kembali, maka muncullah kedamaian dan kemuliaan”. 
Kata-kata ini menguraikan suatu dasar yang di atasnya dibangun bangunan Filsafat Agama Buddha.

PENYEBAB KESEDIHAN
Sebab dari kesedihan dan penderitaan kita ialah kemelekatan (Tanha) dalam segala bentuknya. Jika kita ingin menghentikan kesedihan, maka kita harus membuang kemelekatan, baik kemelekatan terhadap manusia maupun terhadap harta benda. Hal ini merupakan pelajaran kebenaran tentang kematian, karena kematian akan menyerang dan mengisi hidup kita dengan kengerian, kecuali bila kita telah dapat memahaminya. Kenyataan ini dengan indah telah dibabarkan oleh Sang Buddha melalui sabda berikut ini: “Kematian akan menyeret manusia yang melekat pada anak-anak dan harta bendanya, bagaikan banjir besar menyeret desa yang tertidur”.

Dalam peribahasa tersebut tersirat makna bahwa bila desa itu tidak tertidur namun terjaga dengan waspada, maka kerugian yang ditimbulkan oleh banjir tersebut akan dapat berkurang jauh.

KEMATIAN BERLAKU BAGI SELURUH ALAM SEMESTA
Marilah kita melihat bagaimana Sang Buddha menyelesaikan masalah kematian yang menimpa diri dua orang, yang karena kemelekatan mereka telah menderita kesedihan hebat akibat adanya kematian. Pertama adalah kisagotami yang putra tunggalnya meninggal dunia setelah digigit seekor ular. Ia pergi menemui Sang Buddha sambil menggendong mayat putranya untuk memohon pertolongan agar menghidupkannya kembali. Sang Buddha memintanya membawa segenggam biji lada dari satu keluarga yang tidak pernah mengalami kematian, namun ia tidak dapat menemukan keluarga seperti itu. Setiap rumah yang didatangi sedang berkabung atau pernah berkabung atas kematian orang tua ataupun sanak saudara mereka. Akhirnya ia dapat menyadari kenyataan hidup yang pahit ini. Kematian berlaku dimana-mana. Kematian akan menyerang semua makhluk dan tak satupun yang dapat terlolos darinya. Karena itu kesedihan merupakan warisan bagi semua orang.

Orang kedua yang mendapat pertolongan dan bimbingan Sang Buddha adalah Patacara. Hal yang dialaminya jauh lebih menyedihkan, yakni dalam waktu yang singkat ia telah kehilangan kedua putranya, suami, saudara, orang tua, dan seluruh harta bendanya, bahkan kehilangan akalnya. Ia berlari-lari dengan bertelanjang dan liar di jalan-jalan hingga akhirnya berjumpa dengan Sang Buddha. Sang Buddha telah membuatnya waras kembali dengan menjelaskan bahwa kematian harus dapat kita terima sebagai suatu gejala yang wajar bagi setiap makhluk hidup.

Sang Buddha berkata: “Engkau telah menderita dari keadaan yang serupa bukan hanya sekali, Patacara. Namun telah berulang kali selama kelahiran-kelahiran terdahulu. Untuk waktu yang lama sekali engkau telah menderita akibat kematian ayah dan ibu, anak dan sanak kerabat. Selama engkau menderita telah meneteskan air mata lebih banyak dibandingkan dengan air yang ada di samudra”.
Pada akhir pembicaraan tersebut, Patacara menyadari akan ketidak-pastian dari kehidupan ini.

Baik Patacara maupun Kisagotami dapat memahami penderitaan dari pengalaman tragis mereka sendiri. Dengan menyadari sungguh-sungguh akan Kesunyataan Mulia yang pertama yakni “Penderitaan”, maka ketiga Kesunyataan Mulia lainnya juga akan dapat dipahami. Sang Buddha bersabda: “Barang siapa yang mengerti akan penderitaan, juga akan mengerti munculnya penderitaan, lenyapnya penderitaan dan jalan untuk melenyapkan penderitaan”.


LIMA KELOMPOK KEHIDUPAN
Kematian menurut definisi yang terdapat dalam kitab suci Agama Buddha adalah hancurnya Khanda. Khanda adalah lima kelompok yang terdiri dari pencerapan, perasaan, bentuk-bentuk pikiran, kesadaran dan tubuh jasmani atau materi. Keempat kelompok yang pertama adalah kelompok batin atau NAMA yang membentuk suatu kesatuan kesadaran. Kelompok kelima adalah RUPA, yakni kelompok fisik atau materi. Gabungan batin dan jasmani ini secara umum dinamakan individu, pribadi atau ego. Sebenarnya apa yang ada bukanlah merupakan suatu individu yang berwujud seperti itu. Namun dua unsur pembentuk utama, yakni NAMA dan RUPA hanya merupakan fenomena belaka. Kita tidak melihat bahwa kelima kelompok ini sebagai fenomena, namun menganggapnya sebagai pribadi karena kebodohan pikiran kita, juga karena keinginan terpendam untuk memperlakukannya sebagai pribadi serta untuk melayani kepentingan kita.

Kita akan mampu melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, bilamana memiliki kesadaran dan keinginan untuk melakukannya, yakni bila kita ingin melihat ke dalam pikiran sendiri dan mencatat dengan penuh perhatian (Sati). Mencatat secara objektif tanpa memproyeksikan suatu ego ke dalam proses ini dan kemudian mengembangkan latihan tersebut untuk waktu yang cukup lama, sebagaimana telah diajarkan oleh Sang Buddha dalam SATIPATHANA SUTTA. Maka kita akan melihat bahwa kelima kelompok ini bukan sebagai suatu pribadi lagi, melainkan sebagai suatu serial dari proses fisik dan mental. Dengan demikian kita tidak akan menyalahartikan kepalsuan sebagai kebenaran. Lalu kita akan dapat melihat bahwa kelompok-kelompok tersebut muncul dan lenyap secara berturut-turut hanya dalam sekejap, tak pernah sama untuk dua saat yang berbeda; tak pernah diam namun selalu dalam keadaan mengalir; tak pernah dalam keadaan yang sedang berlangsung namun selalu dalam keadaan terbentuk.

Masa berlangsungnya kelompok-kelompok mental ini sangat singkat sedemikian rupa, sehingga selama satu kilatan cahaya halilintar telah terjadi beribu-ibu bentuk pikiran atau saat berpikir yang berturutan dalam pikiran kita. Kelompok materi atau jasmani berlangsung sedikit lebih lama, yakni kira-kira tujuh belas kali dari saat berpikir tersebut. Karena itu setiap saat sepanjang kehidupan kita, bentuk-bentuk pikiran muncul dan lenyap. Lenyapnya yang dalam waktu sekejap mata ini merupakan suatu bentuk dari kematian.

Lenyapnya elemen-elemen dalam waktu sekejap ini tidaklah jelas, karena kelompok-kelompok yang berturutan akan muncul dengan segera untuk menggantikan yang lenyap, dan mereka inipun muncul dan lenyap sebagaimana terjadi dengan hal-hal terdahulu. Inilah yang kita katakan sebagai “Terus berlangsungnya kehidupan”.

Namun dengan berjalannya waktu, maka kelompok materi atau jasmani kehilangan kekuatannya dan mulai terjadi kelapukan. Saatnya akan tiba di mana kelompok-kelompok ini tidak dapat berfungsi lebih lanjut, dan menurut istilah yang biasa dipakai inilah akhir dari suatu kehidupan yang kita sebut sebagai “Terjadinya kematian”.


KELAHIRAN KEMBALI
Namun, keempat kelompok mental, yaitu: kesadaran dan ketiga kelompok mental lainnya yang membentuk “NAMA” atau “KESATUAN KESADARAN” akan terus berlangsung tanpa berhenti. Muncul dan lenyap seperti semula, walaupun tidak pada tempat yang sama, karena tempat terdahulu telah tiada. Kelompok-kelompok mental ini harus segera menemukan suatu landasan fisik yang baru seperti saat sebelumnya agar ia dapat berfungsi dengan serasi. Hukum karmalah yang melakukan kesemua ini, yakni dengan segera menempatkan kembali kelompokkelompok tersebut, yang kita kenal sebagai “KELAHIRAN KEMBALI”.

Akan tetapi perlu kita ketahui bahwa sesuai dengan Ajaran Agama Buddha, tidak dikenal adanya perpindahan jiwa suatu inti dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Menurut filsafat agama Buddha, apa yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa “JAVANA” atau “PROSES BERPIKIR AKTIF YANG TERAKHIR” dari orang yang meninggal dunia telah melepaskan kekuatan-kekuatan tertentu, yang bervariasi sesuai dengan kesucian dari kelima saat berpikir Javana dalam serial tersebut (Lima, bukannya tujuh saat berpikir Javana seperti pada keadaan normal). Kekuatan-kekuatan ini disebut “KAMMA VEGA” atau “TENAGA KARMA” yang mendekatkan diri pada suatu landasan materi yang dihasilkan oleh sepasang orang tua dalam rahim seorang ibu. Kelompok materi dalam gabungan benih ini harus memiliki sifat yang sesuai untuk menerima jenis tertentu dari tenaga karma tersebut.

Pendekatan diri dengan cara ini dari berbagai jenis kelompok jasmani yang dihasilkan oleh sepasang orang tua, terjadi melalui bekerjanya kematian yang memberikan suatu peluang bagi kelahiran kembali yang menguntungkan pada seseorang yang meninggal dunia. Namun pikiran yang tidak baik akan menghasilkan suatu kelahiran kembali yang tidak menyenangkan.


KUMPULAN UNSUR DAN TENAGA
Secara singkat dapat kita katakan bahwa kombinasi dari kelima kelompok disebut “kelahiran”. Munculnya kelompok-kelompok tersebut dalam suatu kumpulan disebut “kehidupan”, sedangkan lenyapnya kelompok-kelompok tersebut disebut “kematian”, dan penggabungan kembali kelompok-kelompok ini disebut “kelahiran kembali”. Namun tidaklah mudah bagi seorang manusia biasa untuk mengerti bagaimana kelompok-kelompok tersebut bergabung kembali.

Dalam hal ini pengertian yang benar akan sifat tenaga-tenaga karma, mental dan unsur-unsur, serta kerja sama tenaga-tenaga alam semesta adalah sangat penting kita ketahui. Bagi sementara orang kejadian yang sederhana dan wajar ini, yakni kematian hanya berarti meleburnya kelima unsur dengan kelima unsur yang sama, sehingga menurut mereka tidak ada yang tersisa.

Sementara itu ada pula kelompok orang yang berpendapat bahwa kematian adalah berpindahnya jiwa dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Ada juga kelompok yang menganggap kematian itu merupakan masa transisi yang tak terbatas dari jiwa, atau dengan kata lain kematian adalah menunggu hari pengadilan (akhir). Bagi umat Buddha, kematian hanya merupakan akhir sementara dari gejala yang bersifat sementara, dan kematian bukan merupakan kemusnahan total dari suatu makhluk.


SEBAB-SEBAB TERJADINYA KEMATIAN
Menurut agama Buddha, kematian dapat terjadi disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
(i) Kematian dapat disebabkan oleh habisnya masa hidup sesuatu makhluk tertentu. Kematian semacam ini disebut “AYU-KHAYA”.
(ii) Kematian yang disebabkan oleh habisnya tenaga karma yang telah membuat terjadinya kelahiran dari makhluk yang meninggal tersebut. Hal ini disebut“KAMMA-KHAYA”.
(iii) Kematian yang disebabkan oleh berakhirnya kedua sebab tersebut di atas, yang terjadi secara berturut-turut. Disebut “UBHAYAKKHAYA”.
(iv) Kematian yang disebabkan oleh keadaan luar, yaitu: kecelakaan, kejadian-kejadian yang tidak pada waktunya, atau bekerjanya gejala alam dari suatu karma akibat kelahiran terdahulu yang tidak termasuk dalam butir (iii) di atas. Disebut“UPACHEDAKKA”.

Ada suatu perumpamaan yang tepat sekali untuk menjelaskan keempat macam kematian ini, yaitu perumpamaan dari sebuah lampu minyak yang cahayanya diibaratkan sebagai kehidupan. Cahaya dari lampu minyak dapat padam akibat salah satu sebab berikut ini:

(i) Sumbu dalam lampu telah habis terbakar. Hal ini serupa dengan kematian akibat berakhirnya masa hidup suatu makhluk.
(ii) Habisnya minyak dalam lampu seperti halnya dengan kematian akibat berakhirnya tenaga karma.
(iii) Habisnya minyak dalam lampu dan terbakar habisnya sumbu lampu pada saat bersamaan, sama halnya seperti kematian akibat kombinasi dari sebab-sebab yang diuraikan pada butir (i) dan (ii) di atas.
(iv) Pengaruh dari faktor luar, misalnya ada angin yang meniup padam api lampu. Sama halnya seperti kematian yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar.

Oleh karena itu karma bukan merupakan satu-satunya sebab dari kematian. Dalam Anguttara Nikaya dan Kitab-kitab lainnya, Sang Buddha menyatakan dengan pasti bahwa karma bukan merupakan penyebab dari segala hal.


CARA MENGHADAPI KENYATAAN
Bagaimana cara terbaik bagi seseorang dalam menghadapi peristiwa kematian yang tak terelakkan ini? Terlebih dahulu kita harus menyadari dan merenungkan bahwa kematian akan dan pasti tiba dalam waktu yang cepat atau lambat. Akan tetapi hal ini bukanlah berarti umat Buddha harus memandang kehidupan dengan suram, karena kematian merupakan kenyataan dan harus dihadapi oleh setiap makhluk. Buddha-Dhamma adalah suatu agama atau Ajaran yang dapat diterima oleh akal pikiran dan umat Buddha dilatih untuk menghadapi kenyataan yang kadang-kadang tidak menyenangkan. Guru Nanak berkata: “Dunia mencemaskan kematian, tetapi bagiku kematian itu membawa kebahagiaan”. Hal ini jelas menunjukkan bahwa orang-orang besar dan mulia tidak takut akan kematian, dan mereka selalu siap menghadapinya. Banyak orang besar yang telah mengorbankan hidup mereka demi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak.

Nama-nama mereka tercatat dalam sejarah dunia dengan tinta emas. Pemimpin besar Amerika, Saul Alinsky berkata: “Satu hal terpenting yang pernah saya pelajari adalah bahwa saya akan mengalami kematian, dan sekali anda dapat menerima kematianmu sendiri, maka seketika itu juga anda bebas untuk hidup. Anda tidak lagi peduli dan selama hidup dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai suatu tujuan yang anda yakini”. Hal ini merupakan cara pribadi-pribadi besar memandang konsep tentang kematian.


KEMATIAN TAK TERELAKKAN
Tampaknya agak bertentangan bahwa meskipun kita seringkali melihat kematian yang menghentikan kehidupan, namun kita jarang sekali berhenti untuk merenungkan bahwa kitapun dapat dengan segera menjadi korban maut. Karena keterikatan kita yang kuat terhadap kehidupan, maka merasa segan untuk membawa-bawa pikiran yang menakutkan tersebut. Walaupun
merupakan suatu kenyataan bahwa kematian adalah suatu kejadian yang pasti. Namun kita lebih suka menyingkirkan pikiran yang menakutkan ini sejauh mungkin, dan menipu diri sendiri dengan menganggap bahwa kematian hanya merupakan gejala yang jauh dan tidak perlu dirisaukan. Kita harus mempunyai cukup keberanian untuk menghadapi kenyataan tersebut dan harus siap menerima bahwa kematian merupakan kejadian yang nyata. Jika kita dapat menghargai peristiwa seperti itu dan melengkapi diri dengan kesadaran bahwa kematian merupakan suatu peristiwa tak terelakkan, yang harus diterima sebagai suatu kejadian biasa dan bukan merupakan suatu peristiwa yang menakutkan, maka kita akan mampu menghadapi, bilamana peristiwa itu tiba, dengan ketenangan, keberanian dan kepercayaan diri.


TUGAS DAN KEWAJIBAN KITA
Setelah mengetahui bahwa kematian akan menghampiri kita pada suatu saat, maka kita harus dapat memutuskan dengan ketenangan, keberanian dan kepercayaan diri yang sama untuk melepaskan tugas dan kewajiban kita pada generasi penerus. Kita tidak boleh berleha-leha dan menunda hingga besok hal-hal yang dapat kita kerjakan hari ini. Kita harus dapat menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan menjalankan kehidupan yang bermanfaat. Tugas terhadap istri atau suami dan anak-anak harus dijalankan dalam waktu yang sama. Kita harus melaksanakan keinginan dan wasiat terakhir tanpa menunggu saat-saat yang terakhir, sehingga di kemudian hari tidak menimbulkan kesulitan dan masalah akibat dari kelalaian kesulitan dan masalah akibat dari kelalaian itu. Kematian dapat memanggil setiap saat dan tidak mengenal waktu, oleh sebab itu kita harus mampu menghadapi saat-saat terakhir dengan berani dan tenang.


KESERAKAHAN DAN KEBODOHAN
Dapatkah kematian diatasi? Jawabannya adalah dapat! Kematian terjadi karena adanya kelahiran. Hal ini merupakan dua mata rantai dalam lingkaran kehidupan yang dikenal dengan nama“Pattica Samuppada”, dan keseluruhannya ada dua belas mata rantai dalam lingkaran tersebut, yang beberapa di antaranya adalah Kilesa atau kekotoran batin. Beberapa karma atau perbuatan menimbulkan Vipaka atau Hasil (dalam lingkaran kehidupan ini) dan Vipaka ini terjadi berulang-ulang. Pengulangan dari kelahiran yang tak terhitung ini disebut Samsara. Jika kita ingin menghentikan lingkaran kehidupan ini hanyalah dengan cara memotongnya pada tahap kekotoran batin, yaitu: Avijja (kebodohan) dan Tanha (nafsu keinginan). Inilah akar-akar dalam lingkaran kelahiran yang harus dimusnahkan, karena itu jika kita dapat memotong nafsu keinginan dan kebodohan, maka kelahiran akan dapat diatasi dan sekaligus kematian juga dapat diatasi, sehingga Samsara teratasi dan tercapailah Nibbana


SEGALA SESUATU ADALAH TIDAK PASTI
Kita harus berusaha mengerti bahwa segala sesuatu dalam alam semesta ini adalah tidak pasti. Kehidupan hanyalah suatu khayalan dan bayangan. Bila kita mengadakan analisa terhadap segala sesuatu, baik secara ilmu pengetahuan ataupun secara filosofis, maka akhirnya kita tidak akan menemukan apa-apa, kecuali kekosongan.

Menurut Sang Buddha, ketidak-kekalan, ketidak-puasan dan ketidak-mampuan untuk menguasai di dalam segala hal merupakan gejala yang wajar dalam alam semesta ini. Mereka yang telah memahami ketiga sifat ini akan terbebas dari ketakutan yang tidak perlu, ketegangan, kekecewaan dan kesedihan. Hanya dengan menyadari kebenaran universal inilah kita akan dapat mempertahankan kedamaian dan ketenangan di dalam diri kita.

tujuan hidup


Tujuan Hidup Dalam  

Agama Buddha



Setiap orang mempunyai tujuan hidup masing-masing yang berbeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Walaupun mempunyai tujuan yang berbeda-beda, tetapi ada satu tujuan yang sama yaitu manusia itu sebetulnya ingin bahagia.
Orang-orang yang mungkin kurang mempelajari Dhamma atau orang yang mungkin tidak bersimpati dengan Dhamma mengatakan Dhamma ini adalah ajaran yang pesimis. Karena isinya selalu tentang dukkha, bukannya tentang sukkha. Berbicara tentang sukkha adalah hal yang wajar; ibarat orang berdagang ingin untung. Jadi untung tidak usah dibahas, karena memang yang dicari. Tetapi kalau rugi, itu yang perlu diperbaiki.
Demikian juga dalam kehidupan; kita semua ingin bahagia, tetapi kalau kita mengalami kegagalan atau mengalami kesulitan di dalam mencapai tujuan; itulah DUKA. Dan itulah yang dibahas dalam agama Buddha agar menjadi SUKA kembali. Jadi hidup ini di satu sisi adalah suka dan sisi lain adalah duka.
Agama Buddha mengajarkan agar hidup yang duka ini diproses sedemikian rupa sehingga bisa menjadi suka. Karena suka dan duka itu hanyalah permainan pikiran, misalnya duduk di tempat ber-AC bisa menimbulkan sukkha bagi yang senang, bisa juga menimbulkan dukkha bagi yang tidak tahan dingin. Inilah yang disebut sukkha dan dukkha karena pikiran.
Tujuan kita hidup adalah untuk mencapai kebahagiaan, namun konsep kebahagiaan bisa bermacam-macam dan dapat dilihat dari sudut yang berbeda-beda. Apa yang bahagia bagi kita, belum tentu bahagia bagi orang lain.
Kebahagiaan awal di dalam kehidupan ini, menurut Dhamma paling tidak kita mempunyai kecukupan empat kebutuhan pokok, yaitu: pakaian, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan. Empat kebutuhan pokok ini sudah cukup buat para bhikkhu dan merupakan ukuran paling rendah di dalam kehidupan menurut Dhamma.
Sandang. Kebutuhan pakaian untuk bhikkhu yaitu satu lembar atau satu set jubah. Bagi para bhikkhu jubah digunakan setiap hari dalam melakukan aktifitas sehari-hari; baik ritual, sosial maupun pribadi. Jubah tersebut fungsinya serba guna, seperti menjadi seprei, selimut atau gorden dan baru rusak setelah +/- 2.5 tahun. Memiliki pakaian lebih dari satu set, sebetulnya anda sudah dapat disebut ‘lebih dari cukup’.
Pangan. Para Bhikkhu makan segala jenis makanan, tetapi dibatasi dengan waktu. Kalau jam makan tidak dibatasi, bhikkhu akan mempersulit umat. Hal ini karena bhikkhu mendapatkan makanan dari umat. Seorang bhikkhu makan sehari sekali atau dua kali itu cukup. "Kalau anda sekarang bisa makan 3 kali sehari, anda tidak perlu mengeluh. Masih untung masih bisa makan 3 kali. Karena bhikkhu cuma makan sekali atau dua kali". Anda dapat dikatakan ‘lebih kaya’ daripada bhikkhu.
Tempat tinggal. Seorang bhikkhu bisa saja tinggal di bawah pohon atau atau di dalam goa. Sekarang ini Vihara dibangun besar-besar, tapi bukan untuk bhikkhu walaupun sertifikat tertera atas nama bhikkhu. Jadi kalau anda bisa kontrak rumah, sebetulnya anda sudah termasuk ‘kaya’. Bhikkhu tidak mampu mengontrak rumah, tapi hidupnya bahagia. Inilah yang disebut cukup dalam kehidupan menurut Dhamma.
Obat-obatan. Seorang bhikkhu minum obat yang sangat tradisional yaitu meminum urine sendiri di pagi hari. Obat ini selain murah dapat menyehatkan badan. Kalau anda bisa beli obat seperti yang diiklankan di TV, seperti obat sakit kepala dan lainnya; anda sudah termasuk ‘lebih dari cukup’.
Oleh karena itu kebahagiaan awal adalah kecukupan sandang, pangan, tempat tinggal dan obat-obatan. Demikianlah hidup seorang bhikkhu. Kalau anda bisa lebih dari itu berarti anda sudah mencapai tahap yang pertama. Di dalam tuntutan sila hal ini disebutSilena Bhogasampada. Kecukupan di dalam kehidupan duniawi.Setelah hidup cukup, maka tercapailah kebahagiaan yang pertama yaitu KEBAHAGIAAN KARENA MENDAPAT. Mendapat makan, mendapat pakaian, mendapat tempat tinggal, mendapat kesehatan. Inilah kebahagiaan tingkat dasar.
Ketika kita sedang makan, ada kucing mengeong. Kerupuk kita bagikan, kucing itu lalu diam. Ada anjing menyalak, diberi tulang lalu diam. Itulah kebahagiaan mendapat yang merupakan kebahagiaan tingkat rendah (pertama). Jadi binatang pun dapat merasakan kebahagiaan KARENA MENDAPAT.
Sebagai manusia kita dapat mencapai tingkat yang kedua, yaituKEBAHAGIAAN KARENA MEMBERI. Berbahagia karena memberi bertujuan untuk membahagiakan makhluk lain. Contohnya cinta,cinta  adalah keinginan untuk selalu dekat dengan dan ingin memberikan kebahagiaan kepada mereka yang dicintai.
Sebetulnya refleksi cinta yang paling bagus adalah ketika orang masih pacaran. Di masa pacaran, semua fihak ingin selalu membahagiakan pasangannya. Sayangnya setelah pernikahan, kebahagiaan memberi ini berhenti. Setelah pernikahan muncullah kebahagiaan meminta. Padahal sebetulnya tingkatan kebahagiaan memberi adalah di atas kebahagiaan meminta atau kebahagiaan mendapat. Tetapi di dalam banyak kasus pernikahan, kasus rumah tangga, apa saja; lebih banyak memberi pada saat pacaran dan meminta pada saat pernikahan.
Contohnya, pada saat percekcokan biasanya suami istri akan mengatakan: "Aku sudah baik sama kamu, aku sudah sabar sama kamu, apa balasanmu kepadaku?" Meminta! Padahal siapa yang memetik kamma buruk kalau kita baik,"tidak ada". Siapa yang memetik kamma baik kalau kita baik,"kita sendiri". Dengan anak juga begitu. Para ibu bapak yang sudah punya anak kalau anaknya nakal, mereka suka ngomong begitu. "Anak dari kecil dibesarin. Apa hasilnya sekarang? Dihitung-hitung seperti investasi. Ongkos susu, ongkos nasi, ongkos lauk semuanya harus dikembalikan".
Sebenarnya setiap orang bisa mendapatkan kebahagiaan memberi. Misalnya seorang ibu memasak, tapi masih ada sisa masakan yang kemarin. Masakan yang baru akan selalu diberikan kepada anak. Berarti ia memberikan yang terbaik, sedangkan masakan yang kemarin diambil sendiri. Si ibu mempunyai kebahagiaan memberi.
Setelah marah atau memenangkan perdebatan, pertarungan, pertengkaran mungkin anda sulit tidur. Karena dalam pikiran anda muncul perasaan tidak enak akibat melukai perasaan orang lain. Sebaliknya jika anda memaafkan dia, maka anda pasti dapat tidur nyenyak. Bahkan anda pun bisa tersenyum sambil tidur, itulah kebahagiaan karena memberi. Sesungguhnya kebahagiaan memberi seperti ini, mampu anda kerjakan.
Ketika kita tersenyum dan dapat memberikan senyuman yang gratis tersebut kepada orang lain, sebetulnya kita telah memberikan yang terbaik. Kalau kita senang melihat orang tersenyum, kita senang melihat bayi tersenyum; sebetulnya mereka pun senang melihat kita tersenyum. Cobalah kita berikan senyuman, cobalah kita berikan yang terbaik kepada orang lain.
Kalau kita bisa selalu MEMBERIKAN YANG TERBAIK, maka tercapailah tujuan kita yang kedua: Silena Sugatimyanti; tercapailah alam bahagia. Karena kebahagiaan di alam surga setelah kehidupan ini, bukan dicapai dengan  MENDAPAT. Mendapat itu hanyalah kebahagiaan duniawi, Silena Boghasampada. Tetapi kebahagiaan di dunia dan setelah kehidupan ini adalahKEBAHAGIAAN KARENA MEMBERI.
Kalau hanya bahagia karena mendapat itu sangat mudah, binatangpun bisa demikian. Karena itu berlatihlah untuk MEMBERI.Memberi senyuman, memberi kata-kata yang baik, memberi cara berpikir yang positif.
Di dalam Dhamma dikatakan seseorang terlahir jelek karena dalam kehidupan yang lampau mukanya masam terus. Kalau kita ingin lahir tidak dengan muka masam, senyumlah banyak-banyak. Pada kelahiran berikutnya pasti cerah mukanya, wajahnya luar biasa. Karena itu cobalah berikan yang terbaik. Berikan semua yang terbaik yang kita miliki; wajah kita, penampilan kita. Jangan penampilan kita ke vihara atau ke pertemuan ini belum mandi; memberikan yang buruk, yang busuk. Dengan badan kita, dengan ucapan kita, dengan pikiran kita; buatlah orang di lingkungan kita menjadi bahagia.
Apa yang bisa saya berikan kepada dia? Karena itulah sumber kebahagiaan di dunia maupun di kehidupan yang akan datang; terlahir di salah satu dari 26 alam surga.
Di dalam pemberian sila para bhikkhu mengucapkan silena sugatim yanti, silena bogasampada. Sugatim yanti,mengenalkan surgadahulu, agar setelah meninggal lahir di surga.
Tetapi kalau kita tidak ingin surga, boleh saja. Kemudian diberi Silena Bhogasampada, mencapai kebahagiaan duniawi dan akhirnyaSilena Nibbutim yanti yang menjadi tujuan ketiga yaitu pencapaian Nibbana; terbebas dari kebahagiaan karena mendapat ataupun memberi. Kita MENDAPAT karena menyadari bahwa semua itu adalah bagian dari buah kamma kita. Ketika kita MEMBERI, memberi demi kebajikan itu sendiri.
Sang Buddha membabarkan Dhamma kepada banyak orang, bukan menanam kebajikan. Beliau memberi sebagaimana adanya. Ibarat bunga yang mekar memberikan keharuman. Bunga itu tidak peduli diletakkan di atas meja atau tidak, di tempat terhormat atau tidak, ia tetap akan berbau wangi. Bunga tersebut mekar, demi mekarnya sendiri. Tak butuh pujian atau penghormatan. Tetapi manusia bekerja giat kalau ada bosnya. Kita belum mencapai tujuan ketiga; kita baru bahagia karena mendapat. Kita masih kurang bisa memberi. Jadi pencapaian Nibbana adalah hidup sebagaimana adanya, ibarat bunga tadi.
Ketika kita bekerja, ketika kita berjuang, ketika kita berbicara, ketika kita berpikir; kita menyadari perjuangan itu sendiri, demi pembicaraan itu sendiri, demi pemikiran itu sendiri, maka hilanglah ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Sehingga lahirnya PENCAPAIAN NIBBANA di dalam kehidupan ketika kita bisa hidup sebagaimana adanya. Melakukan perbuatan demi perbuatan itu sendiri.
Di dalam Dhamma, kegiatan atau perbuatan seseorang yang telah mencapai kesucian tidak lagi bernama kamma yang didukung oleh ketamakan, kebencian atau kegelapan batin. Perbuatan itu disebut kiriya; dia hanya bekerja, berjuang demi untuk perjuangan dan pekerjaan itu sendiri.
Inilah sesungguhnya yang menjadi tiga tujuan hidup kita. Kita boleh mempunyai keinginan mendapatkan pasangan hidup, kita boleh punya keinginan untuk bekerja, kita boleh punya keinginan untuk kaya raya. Tetapi ingat, tujuan MENDAPAT hanyalah tujuan yang pertama, tujuan MEMBERI adalah yang kedua dan tujuan TERBEBAS dari keinginan mendapat dan memberi karena batin telah menjadi netral, bekerja demi pekerjaan itu sendiri seperti bunga yang mekar demi mekar itu sendiri; inilah merupakan tujuan ketiga.
Semoga dengan pemaparan tiga tujuan ini, anda sekarang bisa jelas ke arah mana Dhamma membimbing dalam kehidupan anda. Semoga anda berbahagia di dalam Dhamma. Semoga semua makhluk, baik yang tampak maupun tidak tampak memperoleh kebaikan dan kebahagiaan semua sesuai dengan kondisi kammanya masing-masing. Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

keimanan dan kehidupan setelah mati


Menjelaskan Ajaran Konghucu tentang Tuhan, Keimanan dan hidup setelah Mati


PENDAHULUAN
Khong Hu Cu hidup 2.500 tahun lalu, tetapi hingga akhir abad ke-16 ia belum dikenal orang barat, yaitu ketika namanya dilatinkan menjadi Confucius. Namun kita tidak pernah bisa berharap seperti apa sebenarnya Khong Hu Cu itu dan apa saja yang terkandung dalam ajarannya.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai masalah tentang ajaran atau doktrin yang di kembangkan dalam agama Kong Hu Cu, berikut penjelasan-penjelasan yang akan di paparkan pada bab-bab terkait.


  1. Sekilas Asal Konfusius
Cina adalah sebuah Negara yang memiliki sejarah cukup panjang, yang konon dimulai sekitar tahun 2.700 S.M. Cina memiliki tiga agama besar yaitu Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme.  Beberapa sumber kuno seperti Sje-Tsing (buku puji-pujian, dan Shu Ching (Buku Sejarah). Memberi kesan bahwa bangsa Cina purba menganut faham Monoteis, yaitu percaya pada satu Tuhan, nama yang diberikan untuk Tuhan mereka adalah Shang-Ti (Penguasa Tertinggi), dan Thien (Sorga).
Akan tetapi dalam perkembangan sejarah Cina, kepercayaan yang semula pada satu Tuhan menjadi kacau karena bangsa Cina mulai mempercayai roh-roh halus dan roh-roh nenek moyang yang semuanya itu mereka puja dalam upacara-upacara pengorbanan. Kira-kira pada abad VI S.M, kehidupan serta moral bangsa Cina mulai merosot.
Dalam situasi seperti ini lahirlah konfusius, atau Kong Hu Tzu atau Kong Fu Tze, yang kemudian ajaran-ajarannya kemudian sangat berpengaruh besar dalam kehidupan bangsa Cina. Selama hampir 25 abad Konfusius dianggap sebagai guru pertama oleh orang-orang Cina. Hal ini tidak berarti bahwa sebelum Konfusius tidak ada guru di Cina, melainkan merupakan pengakuan dari bangsa Cina bahwa Konfusius berada pada tingkat paling atas dari semua guru tersebut.[1]

  1. Ajaran Tentang Tuhan
Agama Kongfutzu, atau biasa dibunyikan dengan Kong Hu Cu, di kaitkan dengan nama pendiri agama ini yaitu Kung Fu Tze (551-479 SM). Ada yang menilai bahwa ajaran Kung Fu Tze bukanlah suatu agama melainkan hanyalah ajaran tentang nilai-nilai (Ethika) saja, karena Kung Fu Tzu sendiri menghindarkan diri untuk berbicara tentang alam gaib. Akan tetapi R.E Hume, Ph.D. dalam bukunya The World`s Living Religions Edisi 1950 menjelaskan bahwa sistem ajaran Kung Fu Tzu itu mengenal pengakuan terhadap kodrat maha Agung (Supreme Being), serta mempercayai pemujaan terhadap arwah Nenek Moyang (Ancetors-Worship), juga mengajarkan tata tertib Kebaktian. dengan landasan inilah seiring perkembangan zaman ajaran Kung Fu Tze termasuk kepada ajaran keagamaan.[2]
Dalam agama Konghucu istilah Tuhan disebut dengan Thian dan bukan Allah seperti yang terdapat dalam agama Kristen dan islam. Istilah Tuhan Yang Maha Esa (Thian atau Shang Ti) banyak diulas dalam kitab-kitab agama Konghucu. Berikut contohnya :
Nama Kitab
Isi
She Cing
“Kekuasaan dan bimbingan dari Thian (Tuhan Yang Maha Esa) sangat luas dan dalam hal ini diluar jangkauan suara, sentuhan, atau penciuman” (She Cing IV Wen Wang 1/7)
“Oh betapa besarnya kekuasaan Shang Ti (Tuhan Yang Maha Esa) yang memerintah dan membimbing seluruh umat manusia” (She Cing IV Thang I/I)
Lun Yu (Lun Gi)
“Dia yang telah berdosa pada Thien, berdoa pun tidak akan bermanfaat” (Lun Gi III : 13)
Tai Hak
“didalam kitab sanjak tertulis, sebelum kerajaan Len kehilangan kedaulatannya laksana di bawah pimpinan Tuhan Yang Maha Tinggi (Siang Tee)…” (Tai Hak X : 5)
Tiong Yong
“Firman Thian, (Tuhan Yang Maha Esa) itulah dinamai watak sejati. HIdup mengikuti watak sejati itulah dinamai menempuh jalan suci. Bimbingan menempuh jalan suci itulah dinamai agama.” (Tiong Yong, Bab utama : 1)
Bing Cu
“Bagaimanakah Sun memperoleh dunia ini? Siapakah yang memberinya? Thian Yang memberinya!.” (Bing Cu VA 5 : 3)
Dari beberapa kutipan kitab-kitab diatas dapatlah dikatan bahwa Kong Hu Cu tidak hanya berbicara tentang moral atau etika semata, melainkan juga berbicara tentang Tuhan Yang Maha Esa (Thian atau Shiang Ti). Thian adalah sumber dari segala yang ada di dunia ini. Konsep Thian yang digambarkan dalam kitab-kitab di atas adalah yang bersifat roh, Tuhan Yang Maha Esa (Siang Ti).[3]
Kung Fu Tze, dengan begitu mengakui perwujudan alam gaib dan kodrat gaib yang bersifat menentukan kehidupan manusiawi. Tetapi dia sendiri tidak melakukan pembahasan tentang alam gaib maupun kodrat gaib itu. Agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut Thian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shang Ti (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan. Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta (Yuan) ; Maha Menjalin, Maha Menembusi dan Maha Luhur (Heng) ; Maha Pemurah, Maha Pemberi Rahmat dan Maha Adil (Li), dan Maha Abadi Hukumnya (Zhen).[4]
Selain Thian atau Shang Ti ada kata lain yang berkaitan dengan agama Konghucu yaitu Thian Li dan Thian Ming, Thian Li adalah hokum-hukum dan peraturan yang bersumber dari Thian (firman Tuhan), sedangkan Thian Ming adalah Sesuatu yang telah dijadikan atau yang telah terjadi.[5]

  1. Ajaran Tentang Keimanan
Penyebaran ajaran-ajaran Kong Hu Cu dimulai tidak lama setelah dia meninggal dunia. Setelah berkabung karena kematiannya pendirinya yaitu Kong Fu Tze, para murid Kong Fu Tze menyebarkan dan masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri dalam melanjutkan pekerjaan penyebaran agamanya. Akan tetapi akibat perbedaan-perbedaan yang semakin lama semakin bertambah besar karena masing-masing mengembangkan sistem pemikiran tersendiri, sesuai dengan kepentingan dan keyakinannya.
Menurut Hs. Thjie Tjay Ing ajaran keimanan Konghucu diadopsi dari kata “Sing” artinya Sempurna kata, batin dan perbuatan, merupakan bentuk dari rangkaian kata “Gan” artinya berbicara/sabda/kalam dan “Sing” artinya sempurna atau jadi. Berikut adalah penggalan ayat dalam kitab Su Si yang berkaitan dengan Keimanan :
“Iman itulah jalan suci Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa; berusaha ber-oleh iman, itulah jalan suci manusia; yang beroleh iman ialah orang yang telah memilih kepada yang baik lalu didekap sekokoh-kokohnya”. (Bingcu IVA 12 : 2). Keimanan kaum Kong Hu Cu (Konfusius) tidak lepas dari kitab suci agama itu sendiri yang diyakini ditulis oleh Konfusius sendiri yaitu :
Shu Ching, Buku tentang sejarah. Aslinya mengandung 100 dokumen sejarah sejarah dinasti-dinasti kuno Cina dan mencakup suatu periode yang dimulai dari abad ke-24 S.M. sampai abad 8 S.M. Konfusius dikatakan telah menyusun dokumen-dokumen ini secara kronologis dan menulis kata pengantarnya. Dokumen ini tercampur dengan ajaran-ajaran agama dan moral.
Shing Ching, yaitu buku tentang puisi, yaitu kumpulan sajak-sajak yang popular yang ditulis lima ratus tahun pertama dari dinasti Chan.
Yi Ching, Buku tentangperubahan-perubahan. Buku ini mengemukakan system yang sangat fantastis menyangkut filsafat dan menjelaskan apa yang disebut dengan prinsip Yin (wanita) dan Yang (pria).
Li, Chi, buku tentang upacara-upacara. Konfusius menyetujui beberapa upacara tradisional untuk mendisiplinkan rakyat dan membawakehalusan budi, keagungan dan kesopanan kedalam tingkah laku sosial mereka.
Yeo, buku tentang music. Pada zaman konfusius music berhubungan erat dengan puisi, sehingga ketika ia menerbitkan sajak-sajak kuno ia juga menyusun pasangannya berupa music untuk setiap sajak yang telah diseleksinya.
Chu`un Ch`ii, tentang sejarah musim semi dan musim rontok, yaitu catatan kronologis tentang peristiwa-peristiwa di negri Lu mulai tahun pertama pemerintahan pangeran Yiu (722 S.M) hingga tahun keempat belas dari pemerintahan pangeran Ai (481 S.M).[6]
Dalam agama Kong Hu Cu ada yang disebut pengakuan Iman, diantaranya ada delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui / Pat Sing) dalam agama Khonghucu:
  1. Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Thian)
  • Bu Ji Bu Gi (jangan mendua hati, jangan bimbang)
  • siang tee liem li (tuhan yang maha tinggi besertamu)
  1. Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
  • bu wan hut kai (tiada jarak jauh tak terjangkau)
  • khik hiang thian siem (sungguh hati tuhan merahmati)
  1. Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
  • cun siem yang sing (jagalah hati rawatlah watak sejati)
  • cik tis u thian (demikian mengenal / mengabdi tuhan)
  1. Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
  • Cien siu kwa yok (tekunlah membina diri, kurang keinginan)
  • hwat kai toing ciat (bila nafsu timbul, jagalah tetap dibatas tengah)
  1. Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
  • liep sien hing too (tegakkan diri menempuh jalan suci)_
  • I hian hu boo (demi memuliakan ayah bunda)
  1. Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
  • ci cun ci sing (yang terjunjung, nabi agung)
  • ing poo thian bing (yang dilindungi firman tuhan)
  1. Sepenuh Iman memuliakan Kitab Shu Si dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
  • thian he tai king (kitab suci besar dunia)
  • liep bing tai pun (pokok besar tegakkan firman)
  1. Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)[7]
  • su ji put li (sekejap pun tidak terpisah)
  • bu kiong ci hiu (tempat sentosa yang tanpa batas).[8]
  1. Ajaran Tentang Hidup Setelah Mati
Dalam agama Konghucu ajaran hidup setelah mati di refleksikan melalui Pemujaan arwah nenek moyang yang merupakan tradisi bagi bangsa Tionghoa sejak masa sebelum Kung Fu Tze. Tradisi tersebut dikukuhkan oleh Kong Fu Tze karena dipandangnya suatu sumber azasi baik nilai-nilai lainnya.
“Layanan cinta kasih dan takzim kepada ibu-bapa sewaktu hidup. Dan berduka cita serta berkabung sewaktu mereka meninggal dunia: sekaliannya itu kewajiban asazi bagi yang hidup.” (SBE, 3 : 488). Menurut kepercayaan, ibu-bapa yang telah meninggal tetap hidup berkelanjutan dan tetap mengawasi turunannya. Persembahan makanan pada waktu-waktu tertentu itu bukan bersifat korban tebusan, tetapi perlambang santap bersama yang dipandang sakral.[9]
Karakteristik umum dalam agama orang Cina pada masa Konfusius adalah penyembahan leluhur. Penyembahan leluhur adalah pemujaan roh-roh orang mati oleh kerabatnya yang masih hidup. Mereka percaya bahwa kelanjutan kehidupan roh-roh leluhurnya tergantung dari perhatian yang diberikan oleh para kerabatnya yang masih hidup. Mereka juga menyakini bahwa para roh tersebut dapat mengendalikan peruntungan keluarga.
Jika keluarga menyediakan kebutuhan roh para leluhur, sebagai imbalannya, roh para leluhur itu akan membawa hal-hal baik yang terjadi dalam kehidupan keluarga. Namun, jika para leluhur diabaikan, diyakini bahwa semua hal yang buruk akan menimpa keluarga. Akibatnya, orang yang hidup terkadang hidup dalam ketakutan kepada mereka yang telah mati. Richard C. Bush menyatakan:
“Penyembahan leluhur oleh keluarga kerajaan dan rakyat jelata mengungkapkan beberapa alasan mengapa mereka melakukannya. Mereka ingin para leluhur dapat hidup di luar kubur, menjalani hidup sama seperti bagaimana mereka hidup di bumi; oleh karena itu, yang masih hidup mencoba untuk memberikan apapun yang sekiranya diperlukan. Alasan kedua adalah bahwa jika mereka tidak diberi makanan, senjata, dan perlengkapan yang diperlukan untuk bertahan hidup di luar sana, para leluhur dapat mendatangi mereka sebagai hantu dan membawa masalah bagi yang hidup. Hingga kini, orang Cina merayakan "Festival Hantu Lapar", menaruh makanan dan anggur di depan rumah untuk memuaskan roh leluhur atau hantu yang tidak diperhatikan keturunannya yang kemudian menghantui. Motif ketiga adalah untuk memberitahu para leluhur apa yang terjadi pada masa kini, dengan harapan para roh leluhur itu, entah bagaimana caranya, mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja sehingga mereka dapat hidup dengan damai. Dan alasan terakhir, pemujaan roh leluhur menunjukkan harapan bahwa para leluhur akan memberkati keluarga yang masih hidup, dengan anak-anak, kemakmuran, keharmonisan, dan segala yang berharga. (Richard C. Bush, The Story of Religion in China, Niles, IL: Argus Communication, 1977, hal. 2)”[10]
Untuk membuktikan bahwa Konghucu benar-benar telah mengajarkan kehidupan setelah mati, Haksu Tjie Thay Ing mengutip ayat-ayat sebagai berikut: “semangat atau jiwa rohani (khi) itulah perwujudan tentang adanya roh (sien); kehidupan jasad (phik) itulah perwujudan tentang adanya nyawa/jiwa badani (kui). Bersatu harmonisnya nyawa dan roh dalam kehidupan ini adalah tujuan pengajaran agama. Semua yang dilahirkan tumbuh berkembang pasti mengalami kematian, yang mati itu berpulang kepada tanah, inilah yang berkaitan dengan nyawa atau jiwa badani. Semangat atau jiwa rohani itu naik ke atas, memancar cemerlang (seolah) diantara semerbaknya bau dupa, itulah sari berates benda dan makhluk. Itulah kenyataan adanya roh”. (Lee ki XXIV : 13)[11]
Dalam masyarakat cina khususnya kaum Konfusianisme, ajaran tentang Tuhan dan kehidupan setelah mati tidak ditolak, dan juga tidak ditekankan untuk diketahui. akan tetapi ajaran ini secara samar-samar diakui sebagai yang kongkrit. Berbeda dengan agama islam, Tuhan dan kehidupan setelah mati di uraikan secara jelas dan dogmatis (rukun Iman).