Jumat, 06 Februari 2015

tujuan hidup


Tujuan Hidup Dalam  

Agama Buddha



Setiap orang mempunyai tujuan hidup masing-masing yang berbeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Walaupun mempunyai tujuan yang berbeda-beda, tetapi ada satu tujuan yang sama yaitu manusia itu sebetulnya ingin bahagia.
Orang-orang yang mungkin kurang mempelajari Dhamma atau orang yang mungkin tidak bersimpati dengan Dhamma mengatakan Dhamma ini adalah ajaran yang pesimis. Karena isinya selalu tentang dukkha, bukannya tentang sukkha. Berbicara tentang sukkha adalah hal yang wajar; ibarat orang berdagang ingin untung. Jadi untung tidak usah dibahas, karena memang yang dicari. Tetapi kalau rugi, itu yang perlu diperbaiki.
Demikian juga dalam kehidupan; kita semua ingin bahagia, tetapi kalau kita mengalami kegagalan atau mengalami kesulitan di dalam mencapai tujuan; itulah DUKA. Dan itulah yang dibahas dalam agama Buddha agar menjadi SUKA kembali. Jadi hidup ini di satu sisi adalah suka dan sisi lain adalah duka.
Agama Buddha mengajarkan agar hidup yang duka ini diproses sedemikian rupa sehingga bisa menjadi suka. Karena suka dan duka itu hanyalah permainan pikiran, misalnya duduk di tempat ber-AC bisa menimbulkan sukkha bagi yang senang, bisa juga menimbulkan dukkha bagi yang tidak tahan dingin. Inilah yang disebut sukkha dan dukkha karena pikiran.
Tujuan kita hidup adalah untuk mencapai kebahagiaan, namun konsep kebahagiaan bisa bermacam-macam dan dapat dilihat dari sudut yang berbeda-beda. Apa yang bahagia bagi kita, belum tentu bahagia bagi orang lain.
Kebahagiaan awal di dalam kehidupan ini, menurut Dhamma paling tidak kita mempunyai kecukupan empat kebutuhan pokok, yaitu: pakaian, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan. Empat kebutuhan pokok ini sudah cukup buat para bhikkhu dan merupakan ukuran paling rendah di dalam kehidupan menurut Dhamma.
Sandang. Kebutuhan pakaian untuk bhikkhu yaitu satu lembar atau satu set jubah. Bagi para bhikkhu jubah digunakan setiap hari dalam melakukan aktifitas sehari-hari; baik ritual, sosial maupun pribadi. Jubah tersebut fungsinya serba guna, seperti menjadi seprei, selimut atau gorden dan baru rusak setelah +/- 2.5 tahun. Memiliki pakaian lebih dari satu set, sebetulnya anda sudah dapat disebut ‘lebih dari cukup’.
Pangan. Para Bhikkhu makan segala jenis makanan, tetapi dibatasi dengan waktu. Kalau jam makan tidak dibatasi, bhikkhu akan mempersulit umat. Hal ini karena bhikkhu mendapatkan makanan dari umat. Seorang bhikkhu makan sehari sekali atau dua kali itu cukup. "Kalau anda sekarang bisa makan 3 kali sehari, anda tidak perlu mengeluh. Masih untung masih bisa makan 3 kali. Karena bhikkhu cuma makan sekali atau dua kali". Anda dapat dikatakan ‘lebih kaya’ daripada bhikkhu.
Tempat tinggal. Seorang bhikkhu bisa saja tinggal di bawah pohon atau atau di dalam goa. Sekarang ini Vihara dibangun besar-besar, tapi bukan untuk bhikkhu walaupun sertifikat tertera atas nama bhikkhu. Jadi kalau anda bisa kontrak rumah, sebetulnya anda sudah termasuk ‘kaya’. Bhikkhu tidak mampu mengontrak rumah, tapi hidupnya bahagia. Inilah yang disebut cukup dalam kehidupan menurut Dhamma.
Obat-obatan. Seorang bhikkhu minum obat yang sangat tradisional yaitu meminum urine sendiri di pagi hari. Obat ini selain murah dapat menyehatkan badan. Kalau anda bisa beli obat seperti yang diiklankan di TV, seperti obat sakit kepala dan lainnya; anda sudah termasuk ‘lebih dari cukup’.
Oleh karena itu kebahagiaan awal adalah kecukupan sandang, pangan, tempat tinggal dan obat-obatan. Demikianlah hidup seorang bhikkhu. Kalau anda bisa lebih dari itu berarti anda sudah mencapai tahap yang pertama. Di dalam tuntutan sila hal ini disebutSilena Bhogasampada. Kecukupan di dalam kehidupan duniawi.Setelah hidup cukup, maka tercapailah kebahagiaan yang pertama yaitu KEBAHAGIAAN KARENA MENDAPAT. Mendapat makan, mendapat pakaian, mendapat tempat tinggal, mendapat kesehatan. Inilah kebahagiaan tingkat dasar.
Ketika kita sedang makan, ada kucing mengeong. Kerupuk kita bagikan, kucing itu lalu diam. Ada anjing menyalak, diberi tulang lalu diam. Itulah kebahagiaan mendapat yang merupakan kebahagiaan tingkat rendah (pertama). Jadi binatang pun dapat merasakan kebahagiaan KARENA MENDAPAT.
Sebagai manusia kita dapat mencapai tingkat yang kedua, yaituKEBAHAGIAAN KARENA MEMBERI. Berbahagia karena memberi bertujuan untuk membahagiakan makhluk lain. Contohnya cinta,cinta  adalah keinginan untuk selalu dekat dengan dan ingin memberikan kebahagiaan kepada mereka yang dicintai.
Sebetulnya refleksi cinta yang paling bagus adalah ketika orang masih pacaran. Di masa pacaran, semua fihak ingin selalu membahagiakan pasangannya. Sayangnya setelah pernikahan, kebahagiaan memberi ini berhenti. Setelah pernikahan muncullah kebahagiaan meminta. Padahal sebetulnya tingkatan kebahagiaan memberi adalah di atas kebahagiaan meminta atau kebahagiaan mendapat. Tetapi di dalam banyak kasus pernikahan, kasus rumah tangga, apa saja; lebih banyak memberi pada saat pacaran dan meminta pada saat pernikahan.
Contohnya, pada saat percekcokan biasanya suami istri akan mengatakan: "Aku sudah baik sama kamu, aku sudah sabar sama kamu, apa balasanmu kepadaku?" Meminta! Padahal siapa yang memetik kamma buruk kalau kita baik,"tidak ada". Siapa yang memetik kamma baik kalau kita baik,"kita sendiri". Dengan anak juga begitu. Para ibu bapak yang sudah punya anak kalau anaknya nakal, mereka suka ngomong begitu. "Anak dari kecil dibesarin. Apa hasilnya sekarang? Dihitung-hitung seperti investasi. Ongkos susu, ongkos nasi, ongkos lauk semuanya harus dikembalikan".
Sebenarnya setiap orang bisa mendapatkan kebahagiaan memberi. Misalnya seorang ibu memasak, tapi masih ada sisa masakan yang kemarin. Masakan yang baru akan selalu diberikan kepada anak. Berarti ia memberikan yang terbaik, sedangkan masakan yang kemarin diambil sendiri. Si ibu mempunyai kebahagiaan memberi.
Setelah marah atau memenangkan perdebatan, pertarungan, pertengkaran mungkin anda sulit tidur. Karena dalam pikiran anda muncul perasaan tidak enak akibat melukai perasaan orang lain. Sebaliknya jika anda memaafkan dia, maka anda pasti dapat tidur nyenyak. Bahkan anda pun bisa tersenyum sambil tidur, itulah kebahagiaan karena memberi. Sesungguhnya kebahagiaan memberi seperti ini, mampu anda kerjakan.
Ketika kita tersenyum dan dapat memberikan senyuman yang gratis tersebut kepada orang lain, sebetulnya kita telah memberikan yang terbaik. Kalau kita senang melihat orang tersenyum, kita senang melihat bayi tersenyum; sebetulnya mereka pun senang melihat kita tersenyum. Cobalah kita berikan senyuman, cobalah kita berikan yang terbaik kepada orang lain.
Kalau kita bisa selalu MEMBERIKAN YANG TERBAIK, maka tercapailah tujuan kita yang kedua: Silena Sugatimyanti; tercapailah alam bahagia. Karena kebahagiaan di alam surga setelah kehidupan ini, bukan dicapai dengan  MENDAPAT. Mendapat itu hanyalah kebahagiaan duniawi, Silena Boghasampada. Tetapi kebahagiaan di dunia dan setelah kehidupan ini adalahKEBAHAGIAAN KARENA MEMBERI.
Kalau hanya bahagia karena mendapat itu sangat mudah, binatangpun bisa demikian. Karena itu berlatihlah untuk MEMBERI.Memberi senyuman, memberi kata-kata yang baik, memberi cara berpikir yang positif.
Di dalam Dhamma dikatakan seseorang terlahir jelek karena dalam kehidupan yang lampau mukanya masam terus. Kalau kita ingin lahir tidak dengan muka masam, senyumlah banyak-banyak. Pada kelahiran berikutnya pasti cerah mukanya, wajahnya luar biasa. Karena itu cobalah berikan yang terbaik. Berikan semua yang terbaik yang kita miliki; wajah kita, penampilan kita. Jangan penampilan kita ke vihara atau ke pertemuan ini belum mandi; memberikan yang buruk, yang busuk. Dengan badan kita, dengan ucapan kita, dengan pikiran kita; buatlah orang di lingkungan kita menjadi bahagia.
Apa yang bisa saya berikan kepada dia? Karena itulah sumber kebahagiaan di dunia maupun di kehidupan yang akan datang; terlahir di salah satu dari 26 alam surga.
Di dalam pemberian sila para bhikkhu mengucapkan silena sugatim yanti, silena bogasampada. Sugatim yanti,mengenalkan surgadahulu, agar setelah meninggal lahir di surga.
Tetapi kalau kita tidak ingin surga, boleh saja. Kemudian diberi Silena Bhogasampada, mencapai kebahagiaan duniawi dan akhirnyaSilena Nibbutim yanti yang menjadi tujuan ketiga yaitu pencapaian Nibbana; terbebas dari kebahagiaan karena mendapat ataupun memberi. Kita MENDAPAT karena menyadari bahwa semua itu adalah bagian dari buah kamma kita. Ketika kita MEMBERI, memberi demi kebajikan itu sendiri.
Sang Buddha membabarkan Dhamma kepada banyak orang, bukan menanam kebajikan. Beliau memberi sebagaimana adanya. Ibarat bunga yang mekar memberikan keharuman. Bunga itu tidak peduli diletakkan di atas meja atau tidak, di tempat terhormat atau tidak, ia tetap akan berbau wangi. Bunga tersebut mekar, demi mekarnya sendiri. Tak butuh pujian atau penghormatan. Tetapi manusia bekerja giat kalau ada bosnya. Kita belum mencapai tujuan ketiga; kita baru bahagia karena mendapat. Kita masih kurang bisa memberi. Jadi pencapaian Nibbana adalah hidup sebagaimana adanya, ibarat bunga tadi.
Ketika kita bekerja, ketika kita berjuang, ketika kita berbicara, ketika kita berpikir; kita menyadari perjuangan itu sendiri, demi pembicaraan itu sendiri, demi pemikiran itu sendiri, maka hilanglah ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Sehingga lahirnya PENCAPAIAN NIBBANA di dalam kehidupan ketika kita bisa hidup sebagaimana adanya. Melakukan perbuatan demi perbuatan itu sendiri.
Di dalam Dhamma, kegiatan atau perbuatan seseorang yang telah mencapai kesucian tidak lagi bernama kamma yang didukung oleh ketamakan, kebencian atau kegelapan batin. Perbuatan itu disebut kiriya; dia hanya bekerja, berjuang demi untuk perjuangan dan pekerjaan itu sendiri.
Inilah sesungguhnya yang menjadi tiga tujuan hidup kita. Kita boleh mempunyai keinginan mendapatkan pasangan hidup, kita boleh punya keinginan untuk bekerja, kita boleh punya keinginan untuk kaya raya. Tetapi ingat, tujuan MENDAPAT hanyalah tujuan yang pertama, tujuan MEMBERI adalah yang kedua dan tujuan TERBEBAS dari keinginan mendapat dan memberi karena batin telah menjadi netral, bekerja demi pekerjaan itu sendiri seperti bunga yang mekar demi mekar itu sendiri; inilah merupakan tujuan ketiga.
Semoga dengan pemaparan tiga tujuan ini, anda sekarang bisa jelas ke arah mana Dhamma membimbing dalam kehidupan anda. Semoga anda berbahagia di dalam Dhamma. Semoga semua makhluk, baik yang tampak maupun tidak tampak memperoleh kebaikan dan kebahagiaan semua sesuai dengan kondisi kammanya masing-masing. Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

keimanan dan kehidupan setelah mati


Menjelaskan Ajaran Konghucu tentang Tuhan, Keimanan dan hidup setelah Mati


PENDAHULUAN
Khong Hu Cu hidup 2.500 tahun lalu, tetapi hingga akhir abad ke-16 ia belum dikenal orang barat, yaitu ketika namanya dilatinkan menjadi Confucius. Namun kita tidak pernah bisa berharap seperti apa sebenarnya Khong Hu Cu itu dan apa saja yang terkandung dalam ajarannya.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai masalah tentang ajaran atau doktrin yang di kembangkan dalam agama Kong Hu Cu, berikut penjelasan-penjelasan yang akan di paparkan pada bab-bab terkait.


  1. Sekilas Asal Konfusius
Cina adalah sebuah Negara yang memiliki sejarah cukup panjang, yang konon dimulai sekitar tahun 2.700 S.M. Cina memiliki tiga agama besar yaitu Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme.  Beberapa sumber kuno seperti Sje-Tsing (buku puji-pujian, dan Shu Ching (Buku Sejarah). Memberi kesan bahwa bangsa Cina purba menganut faham Monoteis, yaitu percaya pada satu Tuhan, nama yang diberikan untuk Tuhan mereka adalah Shang-Ti (Penguasa Tertinggi), dan Thien (Sorga).
Akan tetapi dalam perkembangan sejarah Cina, kepercayaan yang semula pada satu Tuhan menjadi kacau karena bangsa Cina mulai mempercayai roh-roh halus dan roh-roh nenek moyang yang semuanya itu mereka puja dalam upacara-upacara pengorbanan. Kira-kira pada abad VI S.M, kehidupan serta moral bangsa Cina mulai merosot.
Dalam situasi seperti ini lahirlah konfusius, atau Kong Hu Tzu atau Kong Fu Tze, yang kemudian ajaran-ajarannya kemudian sangat berpengaruh besar dalam kehidupan bangsa Cina. Selama hampir 25 abad Konfusius dianggap sebagai guru pertama oleh orang-orang Cina. Hal ini tidak berarti bahwa sebelum Konfusius tidak ada guru di Cina, melainkan merupakan pengakuan dari bangsa Cina bahwa Konfusius berada pada tingkat paling atas dari semua guru tersebut.[1]

  1. Ajaran Tentang Tuhan
Agama Kongfutzu, atau biasa dibunyikan dengan Kong Hu Cu, di kaitkan dengan nama pendiri agama ini yaitu Kung Fu Tze (551-479 SM). Ada yang menilai bahwa ajaran Kung Fu Tze bukanlah suatu agama melainkan hanyalah ajaran tentang nilai-nilai (Ethika) saja, karena Kung Fu Tzu sendiri menghindarkan diri untuk berbicara tentang alam gaib. Akan tetapi R.E Hume, Ph.D. dalam bukunya The World`s Living Religions Edisi 1950 menjelaskan bahwa sistem ajaran Kung Fu Tzu itu mengenal pengakuan terhadap kodrat maha Agung (Supreme Being), serta mempercayai pemujaan terhadap arwah Nenek Moyang (Ancetors-Worship), juga mengajarkan tata tertib Kebaktian. dengan landasan inilah seiring perkembangan zaman ajaran Kung Fu Tze termasuk kepada ajaran keagamaan.[2]
Dalam agama Konghucu istilah Tuhan disebut dengan Thian dan bukan Allah seperti yang terdapat dalam agama Kristen dan islam. Istilah Tuhan Yang Maha Esa (Thian atau Shang Ti) banyak diulas dalam kitab-kitab agama Konghucu. Berikut contohnya :
Nama Kitab
Isi
She Cing
“Kekuasaan dan bimbingan dari Thian (Tuhan Yang Maha Esa) sangat luas dan dalam hal ini diluar jangkauan suara, sentuhan, atau penciuman” (She Cing IV Wen Wang 1/7)
“Oh betapa besarnya kekuasaan Shang Ti (Tuhan Yang Maha Esa) yang memerintah dan membimbing seluruh umat manusia” (She Cing IV Thang I/I)
Lun Yu (Lun Gi)
“Dia yang telah berdosa pada Thien, berdoa pun tidak akan bermanfaat” (Lun Gi III : 13)
Tai Hak
“didalam kitab sanjak tertulis, sebelum kerajaan Len kehilangan kedaulatannya laksana di bawah pimpinan Tuhan Yang Maha Tinggi (Siang Tee)…” (Tai Hak X : 5)
Tiong Yong
“Firman Thian, (Tuhan Yang Maha Esa) itulah dinamai watak sejati. HIdup mengikuti watak sejati itulah dinamai menempuh jalan suci. Bimbingan menempuh jalan suci itulah dinamai agama.” (Tiong Yong, Bab utama : 1)
Bing Cu
“Bagaimanakah Sun memperoleh dunia ini? Siapakah yang memberinya? Thian Yang memberinya!.” (Bing Cu VA 5 : 3)
Dari beberapa kutipan kitab-kitab diatas dapatlah dikatan bahwa Kong Hu Cu tidak hanya berbicara tentang moral atau etika semata, melainkan juga berbicara tentang Tuhan Yang Maha Esa (Thian atau Shiang Ti). Thian adalah sumber dari segala yang ada di dunia ini. Konsep Thian yang digambarkan dalam kitab-kitab di atas adalah yang bersifat roh, Tuhan Yang Maha Esa (Siang Ti).[3]
Kung Fu Tze, dengan begitu mengakui perwujudan alam gaib dan kodrat gaib yang bersifat menentukan kehidupan manusiawi. Tetapi dia sendiri tidak melakukan pembahasan tentang alam gaib maupun kodrat gaib itu. Agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut Thian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shang Ti (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan. Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta (Yuan) ; Maha Menjalin, Maha Menembusi dan Maha Luhur (Heng) ; Maha Pemurah, Maha Pemberi Rahmat dan Maha Adil (Li), dan Maha Abadi Hukumnya (Zhen).[4]
Selain Thian atau Shang Ti ada kata lain yang berkaitan dengan agama Konghucu yaitu Thian Li dan Thian Ming, Thian Li adalah hokum-hukum dan peraturan yang bersumber dari Thian (firman Tuhan), sedangkan Thian Ming adalah Sesuatu yang telah dijadikan atau yang telah terjadi.[5]

  1. Ajaran Tentang Keimanan
Penyebaran ajaran-ajaran Kong Hu Cu dimulai tidak lama setelah dia meninggal dunia. Setelah berkabung karena kematiannya pendirinya yaitu Kong Fu Tze, para murid Kong Fu Tze menyebarkan dan masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri dalam melanjutkan pekerjaan penyebaran agamanya. Akan tetapi akibat perbedaan-perbedaan yang semakin lama semakin bertambah besar karena masing-masing mengembangkan sistem pemikiran tersendiri, sesuai dengan kepentingan dan keyakinannya.
Menurut Hs. Thjie Tjay Ing ajaran keimanan Konghucu diadopsi dari kata “Sing” artinya Sempurna kata, batin dan perbuatan, merupakan bentuk dari rangkaian kata “Gan” artinya berbicara/sabda/kalam dan “Sing” artinya sempurna atau jadi. Berikut adalah penggalan ayat dalam kitab Su Si yang berkaitan dengan Keimanan :
“Iman itulah jalan suci Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa; berusaha ber-oleh iman, itulah jalan suci manusia; yang beroleh iman ialah orang yang telah memilih kepada yang baik lalu didekap sekokoh-kokohnya”. (Bingcu IVA 12 : 2). Keimanan kaum Kong Hu Cu (Konfusius) tidak lepas dari kitab suci agama itu sendiri yang diyakini ditulis oleh Konfusius sendiri yaitu :
Shu Ching, Buku tentang sejarah. Aslinya mengandung 100 dokumen sejarah sejarah dinasti-dinasti kuno Cina dan mencakup suatu periode yang dimulai dari abad ke-24 S.M. sampai abad 8 S.M. Konfusius dikatakan telah menyusun dokumen-dokumen ini secara kronologis dan menulis kata pengantarnya. Dokumen ini tercampur dengan ajaran-ajaran agama dan moral.
Shing Ching, yaitu buku tentang puisi, yaitu kumpulan sajak-sajak yang popular yang ditulis lima ratus tahun pertama dari dinasti Chan.
Yi Ching, Buku tentangperubahan-perubahan. Buku ini mengemukakan system yang sangat fantastis menyangkut filsafat dan menjelaskan apa yang disebut dengan prinsip Yin (wanita) dan Yang (pria).
Li, Chi, buku tentang upacara-upacara. Konfusius menyetujui beberapa upacara tradisional untuk mendisiplinkan rakyat dan membawakehalusan budi, keagungan dan kesopanan kedalam tingkah laku sosial mereka.
Yeo, buku tentang music. Pada zaman konfusius music berhubungan erat dengan puisi, sehingga ketika ia menerbitkan sajak-sajak kuno ia juga menyusun pasangannya berupa music untuk setiap sajak yang telah diseleksinya.
Chu`un Ch`ii, tentang sejarah musim semi dan musim rontok, yaitu catatan kronologis tentang peristiwa-peristiwa di negri Lu mulai tahun pertama pemerintahan pangeran Yiu (722 S.M) hingga tahun keempat belas dari pemerintahan pangeran Ai (481 S.M).[6]
Dalam agama Kong Hu Cu ada yang disebut pengakuan Iman, diantaranya ada delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui / Pat Sing) dalam agama Khonghucu:
  1. Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Thian)
  • Bu Ji Bu Gi (jangan mendua hati, jangan bimbang)
  • siang tee liem li (tuhan yang maha tinggi besertamu)
  1. Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
  • bu wan hut kai (tiada jarak jauh tak terjangkau)
  • khik hiang thian siem (sungguh hati tuhan merahmati)
  1. Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
  • cun siem yang sing (jagalah hati rawatlah watak sejati)
  • cik tis u thian (demikian mengenal / mengabdi tuhan)
  1. Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
  • Cien siu kwa yok (tekunlah membina diri, kurang keinginan)
  • hwat kai toing ciat (bila nafsu timbul, jagalah tetap dibatas tengah)
  1. Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
  • liep sien hing too (tegakkan diri menempuh jalan suci)_
  • I hian hu boo (demi memuliakan ayah bunda)
  1. Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
  • ci cun ci sing (yang terjunjung, nabi agung)
  • ing poo thian bing (yang dilindungi firman tuhan)
  1. Sepenuh Iman memuliakan Kitab Shu Si dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
  • thian he tai king (kitab suci besar dunia)
  • liep bing tai pun (pokok besar tegakkan firman)
  1. Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)[7]
  • su ji put li (sekejap pun tidak terpisah)
  • bu kiong ci hiu (tempat sentosa yang tanpa batas).[8]
  1. Ajaran Tentang Hidup Setelah Mati
Dalam agama Konghucu ajaran hidup setelah mati di refleksikan melalui Pemujaan arwah nenek moyang yang merupakan tradisi bagi bangsa Tionghoa sejak masa sebelum Kung Fu Tze. Tradisi tersebut dikukuhkan oleh Kong Fu Tze karena dipandangnya suatu sumber azasi baik nilai-nilai lainnya.
“Layanan cinta kasih dan takzim kepada ibu-bapa sewaktu hidup. Dan berduka cita serta berkabung sewaktu mereka meninggal dunia: sekaliannya itu kewajiban asazi bagi yang hidup.” (SBE, 3 : 488). Menurut kepercayaan, ibu-bapa yang telah meninggal tetap hidup berkelanjutan dan tetap mengawasi turunannya. Persembahan makanan pada waktu-waktu tertentu itu bukan bersifat korban tebusan, tetapi perlambang santap bersama yang dipandang sakral.[9]
Karakteristik umum dalam agama orang Cina pada masa Konfusius adalah penyembahan leluhur. Penyembahan leluhur adalah pemujaan roh-roh orang mati oleh kerabatnya yang masih hidup. Mereka percaya bahwa kelanjutan kehidupan roh-roh leluhurnya tergantung dari perhatian yang diberikan oleh para kerabatnya yang masih hidup. Mereka juga menyakini bahwa para roh tersebut dapat mengendalikan peruntungan keluarga.
Jika keluarga menyediakan kebutuhan roh para leluhur, sebagai imbalannya, roh para leluhur itu akan membawa hal-hal baik yang terjadi dalam kehidupan keluarga. Namun, jika para leluhur diabaikan, diyakini bahwa semua hal yang buruk akan menimpa keluarga. Akibatnya, orang yang hidup terkadang hidup dalam ketakutan kepada mereka yang telah mati. Richard C. Bush menyatakan:
“Penyembahan leluhur oleh keluarga kerajaan dan rakyat jelata mengungkapkan beberapa alasan mengapa mereka melakukannya. Mereka ingin para leluhur dapat hidup di luar kubur, menjalani hidup sama seperti bagaimana mereka hidup di bumi; oleh karena itu, yang masih hidup mencoba untuk memberikan apapun yang sekiranya diperlukan. Alasan kedua adalah bahwa jika mereka tidak diberi makanan, senjata, dan perlengkapan yang diperlukan untuk bertahan hidup di luar sana, para leluhur dapat mendatangi mereka sebagai hantu dan membawa masalah bagi yang hidup. Hingga kini, orang Cina merayakan "Festival Hantu Lapar", menaruh makanan dan anggur di depan rumah untuk memuaskan roh leluhur atau hantu yang tidak diperhatikan keturunannya yang kemudian menghantui. Motif ketiga adalah untuk memberitahu para leluhur apa yang terjadi pada masa kini, dengan harapan para roh leluhur itu, entah bagaimana caranya, mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja sehingga mereka dapat hidup dengan damai. Dan alasan terakhir, pemujaan roh leluhur menunjukkan harapan bahwa para leluhur akan memberkati keluarga yang masih hidup, dengan anak-anak, kemakmuran, keharmonisan, dan segala yang berharga. (Richard C. Bush, The Story of Religion in China, Niles, IL: Argus Communication, 1977, hal. 2)”[10]
Untuk membuktikan bahwa Konghucu benar-benar telah mengajarkan kehidupan setelah mati, Haksu Tjie Thay Ing mengutip ayat-ayat sebagai berikut: “semangat atau jiwa rohani (khi) itulah perwujudan tentang adanya roh (sien); kehidupan jasad (phik) itulah perwujudan tentang adanya nyawa/jiwa badani (kui). Bersatu harmonisnya nyawa dan roh dalam kehidupan ini adalah tujuan pengajaran agama. Semua yang dilahirkan tumbuh berkembang pasti mengalami kematian, yang mati itu berpulang kepada tanah, inilah yang berkaitan dengan nyawa atau jiwa badani. Semangat atau jiwa rohani itu naik ke atas, memancar cemerlang (seolah) diantara semerbaknya bau dupa, itulah sari berates benda dan makhluk. Itulah kenyataan adanya roh”. (Lee ki XXIV : 13)[11]
Dalam masyarakat cina khususnya kaum Konfusianisme, ajaran tentang Tuhan dan kehidupan setelah mati tidak ditolak, dan juga tidak ditekankan untuk diketahui. akan tetapi ajaran ini secara samar-samar diakui sebagai yang kongkrit. Berbeda dengan agama islam, Tuhan dan kehidupan setelah mati di uraikan secara jelas dan dogmatis (rukun Iman).


Buddha Dhamma sebagai suatu agama atau sebagai suatu cara hidup yang benar dihargai oleh orang-orang berintelek tinggi di banyak bagian dunia ini. Alasan yang sederhana ialah bahwa Sang Buddha, pendiri agama ini, adalah guru yang telah mencapai penerangan sempurna dan berpandangan luas. Cara hidup menurut agama Buddha sangatlah sederhana; bebas dari kepercayaan membuta dan dogma-dogma. Sayang sekali banyak orang yang belum mengerti bagaimana menempuh cara hidup yang benar menurut agama Buddha. Dewasa ini, di banyak bagian dunia ini, dan bahkan di antara masyarakat beragama Buddha sendiri, berbagai kepercayaan dan praktek masih dilakukan atas nama agama ini. Banyak diantara praktek-praktek ini sama sekali bukan ajaran asli Sang Buddha dan bahkan kadang-kadang bertentangan. Sebenarnya banyak orang telah mengabaikan dan melupakan cara hidup yang benar menurut agama Buddha. Banyak pula yang mempunyai pengertian yang keliru mengenai segi-segi panting tertentu dari agama ini. Dengan harapan untuk menghilangkan pandangan salah dan memberikan penerangan kepada masyarakat inilah, maka buku kecil ini diterbitkan.

Mengerti cara hidup menurut agama Buddha berarti harus menempuh cara hidup yang benar. Menghargai sifat kehidupan ini berarti mencapai suatu kehidupan nan bahagia dan damai.

Orang-orang tertentu yang disebut kaum intelektuil menggunakan Buddhisme hanya sebagai suatu dasar bagi pokok pembicaraan mereka dalam membahas segi-segi metafisika dan filsafat agama ini. Mereka mencemoohkan kebiasaan-kebiasaan kebudayaan umat Buddha yang telah diterima, bahkan menyalahkan kebiasaan-kebiasaaan demikian. Ini bukanlah sikap yang benar dan sehat dalam beragama. Suatu agama tanpa pengertian dan agama yang tidak meresap ke dalam kebudayaannya tak akan dapat bertahan, agama itu hanya akan menjadi filsafat kering dan menghilangkan beberapa waktu kemudian. Toleransi adalah hal utama dalam ajaran-ajaran Sang Buddha. Jika sesearang tidak dapat menerima pelaksanaan-pelaksanaan budaya tertentu, ia setidak-tidaknya harus membiarkan pelaksanaan-pelaksanaan tersebut. Dalam pada itu, seseorang harus meneliti makna dan arti yang mendasari pelaksanaan tersebut daripada ia mengeluarkan kata-kata yang gegabah dan tidak pada tempatnya.

Kebudayaan Buddhis telah meresap ke dalam setiap segi kehidupan kita. Kita mengetahui bahwa Buddhisme adalah suatu agama yang membimbing kita menuju kehidupan yang lebih baik di alam ini dan selanjutnya. Adalah tugas kita untuk menyelidiki, mempelajari, memahami dan melaksanakan hal-hal yang disediakan oleh agama kita untuk kita. Kita membutuhkan bimbingan agama kita untuk kehidupan sehari-hari. Upacara-upacara dan adat istiadat, meskipun diterima sebagai suatu bagian pelengkap bagi agama, tidaklah dengan sendirinya mengandung unsur agama. Pengembangan batin adalah segi terpenting dari agama. Untuk mencapai perkembangan batin ini, kita harus memulai dengan menumbuhkan dasar moral yang kuat sehingga kita mempunyai dasar yang teguh, dan dengan mengerti ajaran-ajaran Sang Buddha, kita dapat memperoleh inspirasi batin yang diperlukan. Rasa terima kasih dan penghormatan kita tertuju kepada Sang Guru Agung, Ajaran-ajaranNya dan Sangha tidak boleh dilupakan. Dengan demikian kita mempunyai tiga objek suci, Buddha, Dhamma dan Sangha, yang dalam bahasa Buddhis biasa kita sebut Tiratana yang harus kita hormati. Pencapaian pengembangan batin dan penghormatan pada Sang Tiratana adalah jalan yang dapat membawa kita kepada kehidupan yang benar menuju kedamaian, kebahagiaan dan keselamatan akhir. Inilah tujuan setiap umat Buddha. Sambil kita bercita-cita luhur, kita tidak boleh melupakan atau mengabaikan pelaksanaan atau kebiasaan agama sehari-hari yang mengingatkan kita pada tugas kita terhadap agama. Untuk mengingat semua hal yang bersangkutan dengan kewajiban-kewajiban keagamaan, maka suatu ikhtisar ringkas mengenai peraturan-peraturan agama dan pelaksanaannya akan diterangkan untuk para pembaca.

PERATURAN SEHARI-HARI

Sebagai umat Buddha, sudah selayaknya jika kita memiliki sebuah altar Buddha atau gambar Sang Buddha didalam rumah kita, bukan sebagai barang pameran tetapi sebagai objek penghargaan dan penghormatan. Lukisan indah dari Sang Buddha, yang melambangkan Metta (cinta kasih), kesucian dan kesempurnaan, berguna sebagai sumber hiburan dan inspirasi untuk menolong kita mengatasi segala kesulitan, keresahan atau kesalah pahaman yang perlu kita hadapi dalam kegiatan kita sehari-hari di dunia yang penuh kesukaran ini. Penghidupan penuh dengan perangkap. Perangkap demikian dapat dihindari jika kita ingat untuk melaksanakan ajaran-ajaran mulia dari Guru Agung kita. Sambil menghormati Sang Buddha, adalah suatu tugas yang paling menguntungkan, bila kita dapat bermeditasi walaupun sebentar saja, dengan memusatkan pikiran kita pada sifat-sifat agung dan mulia dari Sang Buddha, sehingga kita dapat menyempurnakan diri kita melalui inspirasinya.

MELAKSANAKANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Sebagai penganut, kita hendaknya membiasakan diri memberi penghormatan kepada Guru Agung ini setiap hari. Ini dapat dilakukan pada dini hari (pagi-pagi sekali) atau malam hari sebelum tidur. Sambil melakukan ini, adalah berfaedah, jika diusahakan untuk membacakan beberapa sutta. Inilah cara hidup nan mulia dari umat Buddha. Orang tua harus menananamkan kebiasaan-kebiasaan agama yang bermanfaat dan dihormati sepanjang zaman ini diantara anak-anak mereka sehingga mereka dapat menyadari dan menghargai pusaka mereka yang berharga.

Para orang tua yang beragama Buddha dianjurkan untuk menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Minggu Buddhis atau kelas-kelas agama untuk melatih anak-anak itu menjadi anak-anak yang patuh dan menjadi warga negara yang baik. Selain umat Buddha dianjurkan untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan agama didalam keluarganya, mereka diingatkan untuk tidak melupakan atau mengabaikan kewajiban-kewajiban bersama terhadap kegiatan-kegiatan di vihara tempat kebaktian-kebaktian diadakan secara teratur pada hari-hari bulan purnama dan bulan madu (tanggal 1 dan 15 Candrasankala). Berkunjung ke wihara dan turut serta dalam kebaktian-kebaktian dapat dianggap sebagai perbuatan yang berjasa. Pelaksanaan delapan sila (ATTHA SILA) selama hari-hari tersebut (tanggal 1 dan 15 Lunar Calender) oleh para penganut merupakan suatu perbuatan yang layak dan berjasa. Mereka yang turut melaksanakan ini diminta untuk berpakaian putih sederhana dan tinggal di vihara selama 1 hari, dengan mencurahkan waktunya pada soal-soal keagamaan seperti meditasi, diskusi agama, rnembaca buku-buku agarna dan memancarkan cinta kasih (Metta).

PERAYAAN-PERAYAAN

Dalam menyelenggarakan perayaan-perayaan sosial atau keluarga, umat Buddha dinasehati untuk tidak bertingkah laku sedemikian rupa hingga melanggar dasar-dasar agama Buddha, misalnya Lima Sila dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tata susila Buddhis harus dipertahankan, Mereka tidak boleh membiarkan dirinya menjadi mabuk atau dipengaruhi oleh sesuatu bentuk kesenangan yang hina, namun mereka hendaknya mengadakan perayaan-perayaan tersebut dengan cara terhormat sepadan dengan kedudukan mereka sebagai umat Buddha yarig terpelajar. Dalam memperingati peristiwa-peristiwa kemasyarakatan, sebaiknya kita tidak melupakan segi-segi rohaniah peringatan tersebut. Suatu kunjungan ke wihara untuk menerima berkah Sang Tiratana sungguhlah tepat untuk setiap kesempatan.

TRADISI DAN ADAT ISTIADAT

Pelaksanaan tradisi dan adat istiadat kebangsaan tidak perlu dibuang bila seseorang menjadi umat Buddha atau mengikuti ajaran Sang Buddha. Sesungguhnya Sang Buddha menasihati para pengikutnya untuk menghormati tradisi dan adat istiadat mereka sendiri jika hal itu mempunyai arti penting dan tidak merugikan. Sebaliknya, jika praktik-praktik itu bertentangan dengan atau melanggar prinsip-prinsip Buddhis yang fundamental, membahayakan orang lain, atau menyusahkan, maka praktik-praktik itu hendaknya dibuang, betapapun hal itu ditujukan untuk maksud baik. Bahkan dalam mengatur fungsi-fungsi keagamaan kita, adalah tugas kita untuk menyusun fungsi-fungsi itu dengan cara-cara terhormat tanpa menyusahkan orang lain. Pengertian ini sangat penting dalam pelaksanaan agama kita dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai suku.

PEMBERKATAN RUMAH

Menempati suatu rumah baru atau pindah dari suatu rumah ke rumah lainnya sering diikuti dengan sesuatu bentuk peringatan atau upacara selamatan. Tidak ada keberatan untuk peringatan seperti itu, tetapi kemball -disini, terlepas dari segi sosial peringatan itu, adalah suatu tradisi Buddhis bagi keluarga yang bersangkutan untuk mengundang para bhikkhu untuk memberikan berkah demi kedamaian, kesejahteraan dan keselarasan rumah tangga itu.

PENGHORMATAN KEPADA PARA DEWA DAN "ROH" SUCI

Di banyak rumah umat Buddha, pesta-pesta tertentu atau perayaan-perayaan khusus diadakan untuk menghormati berbagai dewa dan "roh" suci yang dipuja di dalam rumah mereka atau di kuil-kuil. Walaupun tidak ada keberatan khusus sepanjang hal itu tidak melanggar azas-azas pokok Buddhis, namun harus ditarik suatu perbedaan terhadap kenyataan bahwa perayaan-perayaan yang demikian sifatnya tidaklah mernbantu dalam kemajuan batin kita kecuali untuk kemajuan duniawi. Hal-hal itu harus dengan jelas dibedakan dari Buddha Dhamma sendiri. Oleh karena itu kita jangan memperkenalkan kebiasaan-kebiasaan menurut adat atau tradisi ini sebagai kebiasaan-kebiasaan agama Buddha. Menurut ajaran-ajaran Sang Buddha cara yang tepat untuk mengenang atau menghormati dewa-dewa ini adalah melalui pemindahan jasa-jasa dengan jalan melaksanakan perbuatan-perbuatan berjasa dan memancarkan cinta kasih (Metta) kita kepada mereka melalui meditasi.

PEMBERKAHAN BAGI ANAK YANG BARU DILAHIRKAN

Orang tua anak yang baru melahirkan diminta untuk membawa anak itu ke wihara untuk menerima berkah Sang Tiratana setelah anak itu berusia satu bulan. Persembahan bunga, dupa, lilin atau buah-buahan boleh dilakukan di ruang pemujaan wihara itu dan bhikkhu-bhikku yang tinggal di wihara itu diminta untuk membacakan sutta-sutta untuk memberkahi anak tersebut. Jika dikehendaki, boleh juga dimintakan nasihat para bhikku itu untuk memberikan nama Buddhis yang cocok bagi anak tersebut.

PERNIKAHAN/PERKAWINAN

Telah diperhatikan bahwa banyak umat Buddha cenderung untuk melupakan kewajiban-kewajiban spiritual mereka berkenaan dengan peristiwa yang paling penting dan bertuah ini dalam kehidupan mereka, yaitu pernikahan. Biasanya di beberapa negara Buddhis pasangan yang bertunangan mengundang para bhikkhu untuk memberikan pemberkahan di rumah mereka ataupun di wihara sebelum hari pernikahan. Jika dikehendaki, pemberkahan itu dapat pula dilakukan setelah pernikahan yang biasanya berlangsung di Kantor Catatan Pernikahan atau dirumah pihak yang bersangkutan. Diharapkan agar pasangan-pasangan yang beragama Buddha dengan rajin menunaikan kewajiban-kewajiban agama mereka bila mereka menikah. Persembahan sederhana berupa bunga, dupa dan lilin adalah sernua yang diperlukan untuk kebaktian Pemberkahan sederhana yang diikuti oleh orang tua kedua pihak dan sanak keluarga serta kawan-kawan yang diundang. Pemberkahan demikian, yang diberikan pada hari bertuah, akan menjadi suatu sumbangan spiritual yang pasti untuk keberhasilan, langkah dan kebahagiaan pasangan yang baru menikah.

SAKIT

Seseorang yang sakit, selain menempuh pengobatan medis biasa, sebaiknya juga rnengundang para bhikkhu untuk melakukan suatu pemberkahan keagarnaan yang bertujuan mempercepat kesembuhan si pasien. Pemberkahan seperti itu dapat menanamkan pengaruh spiritual dan kejiwaan pada si pasien sehingga mempercepat penyembuhannya. Khususnya bila penyakit itu kebetulan berhubungan dengan sikap batin si sakit, suatu pelayanan spiritual oleh seorang bhikkhu akan sangat menolong. ~Dalam hal terdapat kepercayaan bahwa suatu penyakit disebabkan oleh pengaruh buruk dari luar atau "roh-roh" jahat, maka suatu kebaktian Pemberkahan dapat menjadi obat penawar yang baik. Tetapi, sebagai urnat Buddha yang mengerti, kita jangan menyerahkan diri pada kepercayaan atau khayalan keliru bahwa "roh-roh" jahat merupakan sebab penyakit kita.

Nasihat Sang Buddha:"Bilamana badanmu sakit, jangan biarkan pikiranmu menjadi sakit juga", sungguhlah benar. Sesuai dengan nasehat ini, kita harus mempergunakan kecerdasan dan pikiran sehat kita untuk mencari pengabatan medis yang cocok untuk penyakit kita daripada menyerah pada tahyulan Meskipun demikian, kita harus senantiasa ingat bahwa sakit merupakan bagian dan bidang dari kehidupan kita sehari-hari didunia ini, dan kita harus menerimanya dengan tenang.

PEMAKAMAN

Manusia harus mati dan kematian akan tiba pada saatnya. Namun, kematian adalah suatu peristiwa sedih dan memilukan bagi manusia. Upacara penguburan hendaknya juga upacara yang khidmat, sesuai dengan peristiwanya

Bertentangan dengan kepercayaan popular dalam masyarakat, upacara pemakaman Tionghoa yang sangat ramai, rumit dan kadang-kadang menyolok yang menelan biaya jutaan rupiah dan sering dikatakan sebagai kebiasaan normal bagi umat Buddha sebenarnya sama sekali bukanlah pelaksanaan Buddhis. Kebiasaan-kebiasaan itu hanya merupakan pengabdian adat istiadat dan tradisi kuno yang berasal dari generasi lampau. Orang-orang yang beragama lain sering heran bila melihat upacara seperti itu, apakah acara itu untuk memperingati sesuatu hari raya yang gembira atau upacara pemakaman yang khidmat. Meskipun agama Buddha tidak berkeberatan terhadap penerusan pelaksanaan itu, sepanjang praktik-praktik itu tidak bertentangan dengan ajaran Sang Buddha, namun terasa bahwa sudah waktunya pelaksanaan-pelaksanaan yang memboroskan, tidak ekonomis, dan tidak penting yang tidak bermanfaat bagi almarhum harus dihapuskan. Pelaksanaan upacara-upacara tradisional yang demikian rumit atau upacara kematian yang kadang-kadang berlangsung sampai berhari-hari atau berminggu-minggu harus pula dikurangi atau dibuang Pelaksanaan tradisional lainnya adalah pembakaran kertas tepekong dan rumah-rumahan kertas simbolis, yang dimaksudkan untuk kepentingan orang yang meninggal dunia. Hal ini jelas tidak bersifat Buddhis dan harus dilenyapkan.

Upacara pemakaman secara Buddhis hendaknya sederhana, khidmat, terhormat dan penuh arti. Bhikku-bhikku boleh diundang ke rumah orang yang meninggal dunia untuk membacakan sutta-sutta sebelum pemakaman. Pelayanan seperti ini diberikan dengan sukarela oleh para bhikkhu tanpa sesuatu pembayaran. Persembahan bunga-bunga dan pembakaran hio dan lilin adalah kebiasaan normal dan dapat diterima. Pada hari pemakaman, pelayanan para bhikkhu dapat dimintakan lagi untuk melaksanakan kebaktian di rumah dan di pekuburan. Telah menjadi kebiasaan bagi orang-orang Tionghoa untuk menyajikan segala jenis masakan termasuk babi dan ayam sebagai persembahan simbiolis untuk orang yang meninggal dunia. Ini juga merupakan suatu kebiasaan tradisionil yang tidak dianjurkan oleh Buddha Dhamma. Persembahan bunga yang sederhana beserta pembakaran dupa dan lilin sudah cukup sebagai persembahan simbolis.

Penyembelihan binatang-binatang tak bersalah untuk dipergunakan sebagai persembahan korban bagi orang-orang yang telah meninggal dunia jelas bertentangan dengan ajaran-ajaran Sang Buddha yang welas asih dan hendaknya dihapuskan sama sekali.

PENGUBURAN DAN PERABUAN

Banyak umat Buddha mempersoalkan apakah seorang yang meninggal dunia harus dikubur atau diperabukan. Buddha Dhamma bersikap lunak dalam persoalan ini. Tidak ada aturan yang keras dan ketat, meskipun di beberapa negara Buddhis perabuan merupakan kebiasaan yang lazim. Pilihan atas sesuatu cara pada dasarnya tergantung pada "permintaan terakhir" dari orang yang meninggal dunia atau atas kebijaksanaan keluarga terdekat.

Namun, dalam pandangan modern, perabuan dianjurkan sebagai suatu bentuk pengaturan mayat yang sesuai dengan syarat-syarat kesehatan. Dengan meningkatnya standar kesehatan dan terjadinya ledakan penduduk, tanah yang dapat dipakai menjadi tidak cukup, sehingga sebaiknya dilakukan perabuan dan tanah yang berharga dapat dipergunakan untuk yang masih hidup daripada dipenuhi dengan batu nisan yang tak terkira banyaknya. Baik dalam penguburan atau perabuan, telah diperhatikan bahwa orang-orang tertentu memasukkan benda-benda berharga milik orang yang meninggal dunia ke dalam peti mati atau tempat perabuan dengan harapan dan keyakinan bahwa orang yang meninggal dunia mendapat keuntungan daripadanya. Terlepas dari rasa sentimen terhadap perbuatan itu, adalah suatu pandangan keliru untuk mengharapkan bahwa penguburan dan pembakaran benda-benda tersebut akan mendatangkan jasa. Daripada dimasukkan kedalam peti mati atau tempat perabuan, lebih baik barang-barang berguna seperti pakaian, sepatu dan lain-lainnya disumbangkan kepada kaum fakir miskin atau kepada lembaga-lembaga amal. Setiap pertolongan kepada kaum fakir miskin merupakan suatu perbuatan berjasa.

PENGATURAN ABU

Pertanyaan sering diajukan tentang apakah yang harus dilakukan terhadap abu jenazah yang telah diperabukan. Tidak ada aturan yang keras dan ketat tentang pengaturannya. Abu itu dapat disimpan dalam sebuah guci dan diletakkan dalam suatu pagoda yang khusus didirikan dalam sebuah wihara untuk maksud itu atau dapat disimpan di mana saja menurut kehendak keluarga terdekat. Pada umumnya, setelah kebaktian singkat abu jenazah ditaburkan ke dalam laut atau sungai.

MENGHORMATI ORANG YANG MENINGGAL DUNIA

Telah dikatakan bahwa persembahan bunga-bunga adalah suatu bentuk penghormatan yang lazim untuk mengenang orang yang meninggal dunia. Namun, dalam hubungan ini juga, dilakukan hal-hal yang berlebih-lebihan karena pada upacara-upacara kita melihat karangan-karangan bunga bernilai ratusan ribu rupiah bertumpuk-tumpuk diatas makam, yang hanya dibersihkan sebagai sampah dalam satu atau dua hari berikutnya. Untuk menghindari pemborosan seperti ini, suatu kebiasaan yang lebih dapat diterima dan lebih layak telah disetujui oleh orang-orang masa kini yang lebih mengerti. Kebiasaan itu ialah bahwa sebagai pengganti karangan bunga, manisan atau kertas tepekong, keluarga terdekat dari orang yang meninggal dunia memberitahukan dalam surat kabar bahwa kawan-kawan atau sanak saudara yang ingin menghormati orang yang meninggal dunia itu dapat berdana kepada lernbaga-lembaga keagamaan atau panti derma atas nama orang yang meninggal dunia itu. Dalam beberapa hal, suatu yayasan khusus tempat orang yang meninggal dunia itu pernah berkecimpung aktif selama hidupnya ditunjuk sebagai penerima dana. Perubahan sikap ini sangat masuk akal dan menggembirakan. Sangat dianjurkan agar kebiasaan seperti ini dapat diikuti oleh semua umat Buddha yang mengerti.

Penghormatan kepada orang yang meninggal dunia biasanya pertama-tama diberikan oleh keluarga terdekat orang yang meninggal dunia itu. Penghormatan ini dengan mudah dapat diberikan oleh anak-anaknya atau keluarga terdekatnya dalam membantu mempersiapkan mayat ke dalam peti jenazah. Sayang sering terjadi bahwa karena ketahyulan yang keliru, ketakutan atau prasangka yang tidak semestinya, maka kewajiban atau penghormatan terakhir hi jarang dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Sebagai gantinya beberapa orang petugas dipekerjakan untuk membersihkan dan membajui mayat itu. Seharusnya tidaklah demikian. Prasangka dan ketahyulan harus dihilangkan. Penghormatan harus diberikan kepada orang yang meninggal dunia.

UPACARA PERINGATAN

Penyelenggaraan upacara keagamaan untuk peringatan di wihara atau di rumah merupakan suatu bentuk lain untuk menghormati orang yang meninggal dunia. Ini dapat diikuti dengan perbuatan jasa yang lain dengan memberikan dana kepada bhikkhu-bhikkhu dan orang-orang miskin. Penyelenggaraan upacara peringatan biasanya dilakukan pada hari ketujuh setelah seseorang meninggal dunia dan juga pada bulan ketiga atau hari keseratusnya. Selanjutnya upacara itu dapat dilakukan pada hari peringatan tanggal kematiannya. Bagi mereka yang mampu, suatu bentuk perbuatan jasa yang lebih patut dipuji adalah berdana kepada yayasan keagamaan atau panti derma guna menghormati orang yang telah meninggal duniai atau menerbitkan buku-buku keagamaan untuk dibagikan pada masyarakat untuk memberi penerangan mengenai ajaran Sang Buddha nan agung.


ajaran welas asih bodhisattva

Ajaran welas asih Avalokitesvara bodhisattva (kwan Im po sat)

Written By Kristiani Asyang


1. Jika orang bikin kita susah,anggaplah itu adalah tumpukan rejeki.

2. Mulai hari ini, belajarlah setiap hari menyenangkan hati org lain.

3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan,itulah bahagia.

4. Lari dan berlarilah yang cepat untuk mengejar hari esok.

5. Setiap hari kamu harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.

6. Setiap kali kalau ada orang yang memberi kamu satu,kamu harus mengembalikannya sepuluh kali lipat.

7. Nilailah kebaikan orang lain terhadap kamu,tetapi hapuslah semua jasa yg pernah kamu berikan kepada org lain....

8. Dalam keadaan benar kamu difitnah,dipersalahkan dan dihukum,maka kamu akan mendapatkan pahala.

9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan,itu merupakan hukuman.

10. Orang yg benar kita bela,tetapi yg salah kita beri nasehat.

11. Jika perbuatan kamu benar,kamu difitnah dan dipersalahkan,tetapi kamu menerimanya. Maka akan datang rezeki yang datang kepadamu yang berlimpah ruah.melihat diri sendiri,itulah kebenaran.

13. Orang yang baik diajak bergaul,tetapi orang yang jahat dikasihani....

14. Kalau wajahmu senyum,hati kamu senang,pasti kamu akan aku terima.

15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing2 maka dua org itu akan bersahabat sepanjang masa.

16. Saling salah menyalahkan,maka akan mengakibatkan putus hubungan.

17.Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah,maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.

18.Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang dibelakangnya,sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.

19. Kalau kamu mengetahui org itu berbuat salah,maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah lembut hingga org itu menjadi insap.

20. Doa dan sembah sujudmu aku terima,apabila kamu bisa sadar dan menuruti jalanku


nasihat buddha hidup chi kung huo fo

27 Nasihat Suci Buddha Chi Kung

Written By Kebajikan ( De 德 )


Seseorang tidak bisa disebut sebagai orang bijaksana, hanya dikarenakan ia banyak berbicara. Akan tetapi, Orang yang terbebas dari kebencian dan ketakutan, juga tidak melekat pada apa pun serta penuh damai, barulah pantas disebut sebagai orang yang bijaksana.

Nasihat Suci Buddha Ci Kung yang harus di ingat dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari...


 27 Nasihat Suci Buddha Chi Kung

  1. Seluruh kehidupan telah diatur oleh penguasa. Apalah yang mau dimohon?
  2. Hari ini tidak tahu masalah esok. Apalah yang mau di kuatirkan?
  3. Kalaulah tidak menghormati orang tua, lalu mengormati junjungan dunia. Apalah arti penghormatan itu?
  4. Kakak adik adalah bersaudara. Apalah yang perlu diperebutkan?
  5. Anak cucu punya rezeki masing-masing. Apalah yang perlu diperebutkan?
  6. Kalau belum mendapat keberuntungan. Apalah yang perlu dipaksakan?
  7. Didunia ini sulit menemukan kebahagiaan. Mengapa harus sedih?
  8. Berpakaianlah yang sederhana dan sopan. Apalah yang mau dipamerkan?
  9. Bagaimana lezatnya makanan, hanyalah sebatas lidah. Mengapa harus rakus?
  10. Setelah meninggal tidak sesen pun yang dibawa. Mengapa harus pelit?
  11. Senior meluku, junior memetik. Apalah yang mau diperebutkan?
  12. Disatu sisi mendapatkan, disisi lain kehilangan. Mengapa harus serakah?
  13. Tiga jengkal diatas kepala ada dewa. Mengapa harus mengelabui?
  14. Kedudukan, kekayaan, kemuliaan bagaikan mekarnya bunga. Apalah yang mau diangkuhkan?
  15. Kekayaan dan kemuliaan orang telah dirintis sebelumnya. Mengapa harus iri?
  16. Kehidupan lalu tidak membina, sekarang menderita. Mengapa harus mengeluh?
  17. Orang berjudi tidak akan ada hasil yang baik. Apalah yang mau dipermainkan?
  18. Membina rumah tangga dengan rajin dan hemat melebihi memohon bantuan orang lain. Apalah yang mau diboroskan?
  19. Kalau saling membalas dendam, kapanlah akan berakhir. Mengapa harus bermusuhan?
  20. Masalah dunia bagaikan bermain catur. Apalah yang mau diperhitungkan?
  21. Orang pintar adakalanya disesatkan oleh kepintarannya? Mengapa harus licik?
  22. Berdusta akan mengikis habis rejeki seumur hidup. Mengapa harus berdusta?
  23. Segala kesalahpahaman akhirnya akan jernih juga. Apalah yang mau diperdebatkan?
  24. Tiada seorangpun juga yang bebas dari masalah. Mengapa harus menyalahkan?
  25. Goa nurani didalam hati manusia, bukan digunung. Apalah yang mau dicari?
  26. Menipu orang adalah petaka, memaklumi orang adalah berkah. Apalah yang mau diramalkan?
  27. Sekali ajal menjemput segala akan berakhir. Apalah yang terus disibukkan?
"Bagi siapa yang memperbanyak dan ikut menyebarkan ajaran welas kasih Buddha Chi Kung ini akan mendapatkan pahala yang tak terhingga."