Jumat, 06 Februari 2015

buddha kwan im

SEJARAH DEWI KWAN IM



Kwan Im pertama diperkenalkan ke Cina pada abad pertama SM, bersamaan dengan masuknya agama Buddha. Pada abad ke-7, Kwan Im mulai dikenal di Korea dan Jepang karena pengaruh Dinasti Tang. Pada masa yang sama, Tibet juga mulai mengenal Kwan Im dan menyebutnya dengan nama Chenrezig. Dalai Lama sering dianggap sebagai reinkarnasi dari Kwan Im di dunia.
Jauh sebelum masuknya agama Buddha, menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Welas Asih Berbaju Putih. Kwan Im (Hanzi:::;Pinyin: Guan Yin) sendiri adalah dialek Hokkian yang dipergunakan mayoritas komunitas Cina di Indonesia. Nama lengkap dari Kwan Im adalahKwan She Im Phosat (Hanzi::::, pinyin: Guan Shi Yin Pu Sa) yang merupakan terjemahan dari nama aslinya dalam bahasa Sanskrit,Avalokitesvara.


Nama Lain

Kwan Im di Asia Timur, dikenal dengan berbagai nama. Akan tetapi “Kwan Im” atau “Kwan Tse Im” masih merupakan panggilan sederhana yang diberikan untuknya. Berikut adalah beberapa panggilan atau sebutan yang diberikan berdasarkan negara tertentu:
Di negara Jepang, Kwan Im Pho Satlebih dikenal dengan nama Dewi Kannon (::) atau secara resmiKanzeon (:::). Dalam bahasaKorea disebut Gwan-eum atauGwanse-eum, dalam bahasaThailand dikenal sebagai Kuan Eim(::::::) atau Prah Mae Kuan Eim(:::::::::), di Hongkong (propinsi Guang Dong); Kwun Yum atau Kun Yum, pelafalan ini berdasarkan bahasa Kanton, dan dalam bahasaVietnam, Quán Âm atau Quan Th: Âm B: Tát.

Arti Nama

Dikemudian hari, Dewi Kwan Im, identik dengan perwujudan dari Buddha Avalokitesvara. Secara absolut, pengertian Avalokitesvara Boddhisatvadalam bahasa Sansekerta adalah :
· Valokita (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna “Melihat ke bawah atau Mendengarkan ke bawah”. Bawah di sini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita).
· Svara (Im / Yin) berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang.

Masa Kecil Kwan Im

Dewi Kwan Im (Miao San ) lahir pada tanggal 19 bulan 2 tahun Kongcu – lik, pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 Sebelum Masehi.Pada tanggal 19 bulan 6 yaitu pada usia 17 tahun memperoleh Penerangan dan mencapai tingkatan Boddisattva / Hud / Fo. Pada tanggal 19 bulan 9 di tahun yang sama, mencapai kesempurnaan dan berhasil Mokswa, naik ke langit bersama badan kasarnya menjadi Kwan Se Yin Pao Sat Jien So Jien Yen atau Dewi Kwan Im Tangan Seribu – Mata Seribu – Kepala Seribu. Dewi Kwan Im selalu membawa botol Amertha atau wadah suci berisi Embun Welas Asih yang berkhasiat mensucikan segala kotoran ( dosa ) serta menyembuhkan.

Kendaraan Dewi Kwan Im

Dewi Kwan Im Miao San mengendarai Ikan Tombro yaitu lambang keteguhan menghadapi tantangan (seperti Ikan Tombro berenang melawan arus meloncati jeram) jadi seruan agar umat teguh tekadnya dan kuat menghadapi tantangan di dunia dengan jalan yang benar. Bertangan Seribu, Bermata Seribu bahkan Berkepala Seribu lambang bisa mampu menjangkau berbagai hal, Penyayang dan penuh Welas Asih.
Kadang naik Bunga Teratai lambang Kesucian yang selalu bersih, biarpun tumbuh di atas Lumpur, agar umat meneladani makna yang tersirat dalam kehidupannya.

Perwujudan Kwan Im

Kwan Im (Avalokitesvara) sendiri asalnya digambarkan berwujud laki-laki diIndia, begitu pula pada masa menjelang dan selama Dinasti Tang (tahun618-907). Namun pada awal Dinasti Sung (960-1279), berkisar pada abad ke 11, beberapa dari pengikut melihatnya sebagai sosok wanita yang kemudian digambarkan dalam para seniman.Perwujudan Kwan Im sebagai sosok wanita lebih jelas pada masa Dinasti Yuan (1206-1368). Sejak masa Dinasti Ming, atau berkisar pada abad ke 15, Kwan Im secara menyeluruh dikenal sebagai wanita.
Bila sudah mencapai taraf Buddha sudah tidak lagi terikat dengan bentuk apalagi gender, karena pada dasarnya roh itu tidak mempunyai bentuk fisik dan gender. Menurut cerita, Dewi Kwan Im adalah titisan Dewa Che Hangyang ber-reinkarnasi ke bumi untuk menolong manusia keluar dari penderitaan, karena beliau melihat begitu kacaunya keadaan manusia saat itu dan sebagai akibatnya terjadi penderitaan di mana-mana.
Dewa Che Hang memilih wujud sebagai wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolonganNya. Disamping itu agar lebih bisa meresapi penderitaan manusia, bila dalam bentuk wanita, karena di jaman itu, wanita lebih banyak menderita dan kurang leluasa dalam membuat keputusan.

Dalam sejumlah kitab Budhisme Tiongkok klasik, seperti Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biau Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 penjelmaan Kwan Im Pho Sat, antara lain :
1.Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera;
2.Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri diatas Naga;
3.Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu;
4.Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri;
5.Kwan Im Berdiri Membawa Anak;
6.Kwan Im Berdiri diatas Batu Karang/Gelombang Samudera;
7.Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu;
8.Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua.

Selain perwujudan yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Kwan Im (Avalokitesvara) juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan.
Selain itu, Kwan Im Pho Sat sering juga ditampilkan berdampingan denganBun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan :Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) – O Mi To Hud – Kwan Im Pho Sat.
Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou)ada 84 perwujudan Dewi Kwan Im sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar.
Altar utama di Kuil Pho To Sandipersembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagaiBudha Vairocana, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 perwujudan lainnya. Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie (salah satuKelenteng tertua di Indonesia adalahKing Cee Kwan Im (Kwan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma kepada umat manusia).
Disamping itu terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Qian Shou Guan Yin (Kwan Im Seribu Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi – Kiu Kho Kiu Lan – Kong Tay Ling Kam – Kwan Im Sie Im Pho Sat.
Ketika agama Buddha memasuki Tiongkok (Masa Dinasti Han), pada mulanya Avalokitesvara Bodhisattva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya waktu, dan pengaruh ajaran Taoisme serta Kong Hu Cu, menjelang era Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisattva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita.
Dari pengaruh ajaran Tao, probabilita perubahan ini terjadi karena jauh sebelum mereka mengenal Avalokitesvara Bodhisattva, kaum Taois telah memuja Dewi Tao yang disebut “Niang-Niang” (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang). Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut“Guan Yin Niang Niang”, sebagai pendamping Avalokitesvara Bodhisattva pria.
Lambat laun tokoh Avalokitesvara Bodhisattva pria dilupakan orang dan tokoh Guan Yin Niang-Niang menggantikan posisinya dengan sebutan Guan Yin Phu Sa. Dari pengaruh ajaran Kong Hu Cu, mereka menilai kurang layak apabila kaum wanita memohon anak pada seorang Dewa. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sesuai dengan keinginan Kwan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai seorang wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolongan.
Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisattva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisattva memiliki tempat suci di gunung Potalaka, Tibet,Pu Tao Shan sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di gunung di kepulauan Zhou Shan,Cina. Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Kwan Im Pho Sat.
Dalam kepercayaan Buddhisme yang berkembang pesat di China, diyakini bahwa segala permohonan yang berangkat dari ketulusan dan niat suci, maka biasanya Dewi Kwan Im akan mengabulkan permintaan tersebut.Terutama pada saat-saat genting dimana seseorang tengah berhadapan dengan bahaya. Sehingga dalam kurun ribuan tahun, pengabdian moral dari Dewi Kwan Im dikenal galib berporos empat jalan kebenaran. Yakni, pengembangan kebajikan, pengembangan toleransi dan saling hormat menghormati, pengendalian batin dan mawas diri, serta menghindarkan dari marabahaya.
Menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Tooyang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im (Miao San ) lahir pada tanggal 19 bulan 2 tahun Kongcu – lik, pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 Sebelum Masehi. Terkait dengan legenda puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang / Miao Chiang / Miao Tu Huang, penguasa negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad ke-3 SM. Dinasti Zhou sendiri berkuasa dari tahun 1122 – 255 SM.
Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tetapi yang dimilikinya hanyalah 3 orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu, yang kedua bernama Miao Yin El, dan yang bungsu bernama Miao Shan.
Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhikunidi Klenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan).
Miao Yin El menikah serta di kemudian hari menurunkan Raja Miao Li yang mempunyai putri bernama Yu Lan. Miao Shu dan Miao Yin lebih cenderung dimanja oleh fasilitas istana dan berfoya-foya. Sementara Miao Shan dengan rajin menjaga dan merawat kedua orang tua mereka. Dari ketiga putri sang Raja, putri ketiga lah yang sangat berbakti kepada kedua orangtua serta leluhurnya. Ia juga memperlihatkan sifat welas asih kepada semua makhluk. Itu sebabnya ia sudah vegetarian sejak balita.
Dikisahkah, saat masih bayi, bila Miao Shan mendengar kata “bunuh”, ia akan menangis sekeras-kerasnya dan tidak mau bila diberi makan daging saat balita. Toleransinya kepada dayang-dayang istana sangat besar sehingga ia disayangi oleh semua pihak. Ia selalu mengaplikasikan bentuk-bentuk kebajikan Buddhisme yang ia pelajari dan dalami ke dalam hidup sehari-harinya.
Hal tersebut menimbulkan iri hati dan benci dari kedua kakak perempuannya, sehingga dengan intrik dan hasutan jahat bekerja sama dengan seorang peramal tua yang jahat akhirnya Miao Shan diusir dari istana. Miao Shan dituduh titisan dari iblis jahat, sehingga negeri mereka yang dulunya makmur, sekarang selalu dirundung bencana. Padahal bencana dan masalah datang, karena banyak pejabat istana termasuk si peramal tua jahat itu terlibat korupsi besar-besaran, bahkan si peramal tua berambisi mengambil tahta Sang Raja.
Kelompok jahat itu mengklaim sejak Miao Shan lahir bencana susul menyusul tiada henti. Kalau bukan kekeringan, pasti kebanjiran. Kalau bukan kelaparan pasti wabah penyakit. Sehingga Miao Shan dianggap jelmaan iblis yang dikutuk oleh langit.
Dalam pengembaraannya Miao Shan mengabdikan diri sebagai samaneri(calon biksu perempuan). Tahun berganti tahun, akhirnya Sang Raja, ayahanda Miao Shan menjadi sakit-sakitan karena merasa rindu pada putri bungsunya tersebut. Sampai akhirnya sang Raja menderita penyakit aneh yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bisul dan borok tak tersembuhkan. Disinyalir ada hubungannya dengan ilmu iblis yang dipelajari oleh peramal tua yang mengincar tahtanya. Bahkan Raja menjadi buta dan permaisuri menjadi kelainan jiwa akibat merindukan putri bungsu mereka.
Miao Shan yang merasa iba, berkat kesaktiannya, mengubah dirinya menjadi seorang bikkhuni. Ia mendatangi istana, dan menjenguk ayahandanya yang terkapar sakit, dengan dalih sebagai tabib. Setelah Miao Shan membacakanparita, ayah ibunya itu merasakan damai yang tiada tara, sehingga mereka tertidur dengan damai. Namun dalam penyamarannya itu, Ia bukannya hanya mengobati, tetapi juga memberi petunjuk bahwa Sang Raja menderita penyakit aneh, dan hanya dapat sembuh jika mengkonsumsi sekerat daging manusia dan sebiji bola mata yang berasal dari tubuh putri kandungnya. Tentu saja ayah ibunya tidak mendengar hal ini karena sudah tertidur, kalau mendengar mungkin mereka tidak berkenan menjalankan pengobatan.
Dihadapan ibu suri dan kedua kakaknya, Miao Shan membeberkan cara pengobatan aneh itu. Di saat meminta kedua kakak perempuannya untuk berkorban diiris otot lengan dan dicungkil sebelah bola matanya untuk dicampur pada obat bagi ayah mereka, saat itu juga keduanya berlutut di samping ranjang ayahanda mereka, menangis tersedu-sedu.
“Oh, Ayahanda, kasihanilah saya Miao Shu. Saya masih memiliki anak yang masih kecil-kecil dan mereka masih membutuhkan saya untuk membesarkan mereka.”
Tak lama berselang, Miao Yin menyusul dengan kalimat bernada serupa. Kali ini tangisnya lebih deras. tiba-tiba Miao Shan menengahi, dengan bijak ia berkata.”Kalau begitu biarkan daging dan bola mata saya saja yang dikorbankan untuk kesembuhan Baginda.” Saat itu kedua kakaknya belum menyadari yang dihadapan mereka adalah adik bungsunya Miao Shan, oleh karena dandanannya yang sederhana sebagai biksuni dan juga karena sekian tahun lamanya mengembara di luar.
Setelah mengiris sekerat otot lengan dan mencongkel bola matanya sendiri dengan belati tanpa rasa takut, dengan tenang serta penuh keikhlasan, ia memberikan bagian-bagian tubuhnya itu untuk campuran ramuan obat untuk ayah ibunya. Saat mengaduk-aduk ramuan obat itu, terjadi keajaiban. Ramuan obat itu memancarkan harum wangi dupa dan memenuhi seluruh penjuru istana.
Raja Miao Zhuang setelah meminum “obat mujarab” tersebut sembuh seketika dan matanya dapat melihat kembali. Atas jasanya, Raja menanyakan apa yang diinginkan oleh Miao Shan yang masih belum dikenali oleh mereka. “Hamba tidak menginginkan bayaran apapun, hamba hanya berbuat baik untuk menyebarkan dharma dan ajaran sang Buddha.” Demikian kata Miao Shan.
“Minimal apa ada permintaan biksuni agar kami tidak merasa terlalu sungkan karena tidak memberikan apa-apa.” Kata Sang Raja.
Terdiam sejenak, kemudian Miao Shan melanjutkan. “Hamba sudah lama kehilangan ayah dan ibu, bolehkan hamba memeluk Baginda dan Permaisuri sehingga kerinduan akan ayah-ibu bisa terobati?”
“Ha? Sesederhana itu? Kenapa tidak boleh… silahkan.” Sahut sang Raja.
Miao Shan menunduk dan menghampiri ayah bundanya itu, setelah bersujud di pelukan Raja ia kemudian berpindah ke pelukan permaisuri dengan airmata berlinang dan suara isak tangis. “Ibu, maafkan anak yang tidak berbakti” demikian Miao Shan berbisik. Karena jarak dekat, permaisuri baru menyadari kalau itu adalah putri bungsunya yang telah diusir dari istana akibat konspirasi pejabat yang tidak setia. Raja yang kaget dan senang bukan kepalang memeluk tubuh putri bungsunya itu dengan airmata berlinang.
Sejak itulah kebajikan dan keluhuran budi Miao Shan menjadi legenda di tanah Tiongkok. Ia menggugah ketulusan tanpa pamrih, pengorbanan tanpa batas, sifat welas asih yang tiada tara, dan masih banyak lagi kemuliaan yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Setelah peristiwa fenomenal tersebut, Miao Shan tetap bertekad melanjutkan pertapaannya dengan menjadi biksuni sepanjang hidup dan pengabdiannya. Meski berat hati, tapi Raja Miao Zhung dan permaisurinya merelakan putri bungsunya tersebut, memaklumi niatnya untuk mengabdi bagi kemanusiaan.
Untuk mengenang putri bungsunya tersebut, Raja Miao Zhung memerintahkan pekerja seni rupa terbaik di negerinya membuat patung berwujud putri Miao Shan dan mendirikan vihara Dewi Kwan Im pertama diPho To San
“Putri saya, Miao Shan, ibarat memiliki seribu tangan untuk membantu sesama dengan tulus serta ikhlas, dan seribu mata yang peka melihat penderitaan rakyat jelata!” demikian kata Raja Miao Zhuang dalam nada bangga, yang ternyata salah ditanggapi oleh para pemahat arca istana. Arca rampung dengan memiliki simbolisasi seribu tangan dan seribu mata. Itulah awal ihwal Miao Shan yang melegenda menjadi Qian Shou Guan Yin (Dewi Kwan Im Seribu Tangan).
Dikisahkan ketika Miao Shan berhasil mencapai pencerahan menjadi Buddha, saat hendak memasuki gerbang Nirwana, ia mendengar banyak tangisan penderitaan dari alam manusia di bawah. Ia kemudian membatalkan memasuki Nirwana dan memilih berada di alam manusia untuk membantu setiap makhluk hidup, karena masih mendengar tangisan penderitaan manusia. Ia senantiasa menyingkirkan segala macam penderitaan dan menumbuhkan kebahagiaan dengan mewujudkan permintaan kesejahteraan kaum papa.
Turun temurun masyarakat Tionghoa sangat menghormati Dewi Kwan Im. Hampir di setiap rumah penganut Konfusiunisme dan klenteng-klentengpasti memiliki rupam atau diorama puja untuk mengenang jasa dan kebaikanNya.

Legenda Miao Shan

Selain itu, menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada zaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM terkait dengan legenda Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM.
Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah 3 (tiga) orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan), yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan).
Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhikuni diKlenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan).
Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhikuni diKlenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan).

Kematian dan di alam baka

Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendirianNya. Pada suatu ketika, Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.
Setelah kematianNya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi neraka. Karena melihat penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka, Puteri Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia. Secara ajaib, doa yang diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci mengubah suasana neraka menjadi seperti surga.
Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya. Begitu bangkit dari kematianNya, Buddha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Buddha Amitabha lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.

Menyelamatkan raja

Sembilan tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat.
Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong. Pada saat akan menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan.
Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa bhakti ketiga putrinya sangat luar biasa. Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan serta bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Buddha. Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan.
Buddha O Mi To Hud (amitabha) yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan “Seribu Tangan dan Seribu Mata, sehingga Beliau dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia. Buddha O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat, juga merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan. Lalu Ji Lay Hud memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang Bertangan Dan Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya, Buddha O Mi To Hud (Amitabha)

Kwan Im, Dewi Tangan seribu

Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im Phu Sa diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, Beliau menggunakan kesaktianNya untuk melawan mereka. Ia berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda jenis.
Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang berbeda, diantaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah berkeping-keping.

Pelantikan

Disebutkan juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat, Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau “Gadis Kumala” dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong) atau “Jejaka Emas”. Pada mulanya, Long Ni adalah cucu dari Raja Naga (Liong Ong), yang diberi tugas untuk menyerahkan mutiara ajaib kepada Kwan Im, sebagai rasa terima kasih dari Liong Ong karena telah menolong puterinya. Namun ternyata Long Ni justru ingin menjadi murid Kwan Im dan mengabdi kepadaNya.
Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda. Versi pertama berdasarkan legenda Puteri Miao Shan yang menceritakan bahwa Shan Cai adalah pemuda yatim piatu yang ingin belajar ajaran Buddha. Ia ditemukan oleh To Te Kong dan diserahkan kepada Kwan Im untuk dididik. Versi lain dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si Anak Merah.
Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk mengatasiNya.
Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai. Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha), yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan diantara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong.

Legenda Puteri Miao Shan

Dalam legenda Puteri Miao Shan, disebutkan bahwa kakak-kakak Miao Shan bertobat dan mencapai kesempurnaan, lalu mereka diangkat sebagai Pho Sat oleh Giok Hong Siang Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Pho Sat (Wen Shu Phu Sa) dan Puteri Miao Yin sebagai Po Hian Pho Sat (Pu Xian Phu Sa). Disebutkan juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat, Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau “Gadis Kumala” dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong)atau “Jejaka Emas”.
Pada mulanya, Long Ni adalah cucu dari Raja Naga (Liong Ong), yang diberi tugas untuk menyerahkan mutiara ajaib kepada Kwan Im, sebagai rasa terima kasih dari Liong Ong karena telah menolong puterinya. Namun ternyata Long Ni justru ingin menjadi murid Kwan Im dan mengabdi kepadaNya. Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda. Versi pertama berdasarkan legenda Puteri Miao Shan yang menceritakan bahwa Shan Cai adalah pemuda yatim piatu yang ingin belajar ajaran Buddha. Ia ditemukan oleh To Te Kong dan diserahkan kepada Kwan Im untuk dididik.
Versi lain dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk mengatasiNya.
Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai. Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha), yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan diantara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong.


kata-kata renungan


215 Kata Perenungan


1. Sinar matahari sangat terang, budi orang tua sangat
besar, orang berbudi berlapang dada dan orang picik
sangat arogan.

2. Bertutur dengan kata yang baik, berpikirlah dengan
niat yang baik dan melakukan perbuatan baik.

3. Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri sendiri.


4. Kesuksesan adalah pengoptimalan suatu kelebihan,
kegagalan adalah akumulasi dari segala kekurangan.

5. Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap
orang memiliki kemungkinan yang tak terhingga.

6. Telapak tangan menghadap kebawah adalah menolong
orang, menengadah adalah memohon bantuan; membantu
orang mendatangkan kegembiraan sedangkan memohon
bantuan adalah suatu penderitaan.

7. Banyak berbuat baik akan mendapatkan banyak berkah,
sedikit berbuat baik akan kehilangan banyak berkah.

8. Melakukannya dengan suka rela, menerimanya dengan
suka cita.

9. Didalam hati berpengertian, bertorelansi, tahu
bersyukur, bisa merasa puas dan menghargai keberkahan.

10. Melakukan yang memang seharusnya dilakukan adalah
bijaksana, melakukan apa yang tidak seharusnya
dilakukan adalah kebodohan.

11. Jika tabiat dan ucapannya tidak baik, meski
hatinya sebaik apapun tidak dapat dikategorikan
sebagai orang baik.

12. Ilmu pengetahuan harus dipahami dengan
sungguh-sungguh, baru bisa menjadi kebijaksanaan dalam
diri sendiri.

13. Kasih sayang tidak dapat dengan memohon pada orang
lain, melainkan diperoleh dari sumbangsih yang
diberikan.

14. Musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan
diri kita sendiri.

15. Hendaknya bersaing untuk menjadi siapa yang lebih
dicintai, bukan siapa yang lebih ditakuti.

16. Menyia-nyiakan waktu setiap hari adalah pemborosan
hidup, bekerja penuh semangat dan menjadi orang yang
berguna adalah membangun kehidupan kita sendiri

17. Lakukanlah dengan sepenuh hati, jangan merasa
khawatir ataupun risau

18. Orang yang selalu mencari-cari alasan bagi
kegagalannya, tidak akan memperoleh kemajuan untuk
selamanya.

19. Selalu merasa tidak senang kepada orang lain,
karena kurang dalam pelatihan kepribadiannya diri
sendiri.

20. Rumput tidak akan mudah tumbuh dilahan yang
ditanami sayur-sayuran. Hati tidak mudah timbul
kebencian bila dipenuhi rasa persahabatan.

21. Berapa banyak kewajiban yang telah anda penuhi,
sebanyak itu pula kemampuan yang akan diperoleh.

22. Lebih baik berhati lapang daripada memiliki rumah
yang luas

23. marah adalah tindakan menghukum diri sendiri
dengan mengambil kesalahan yang dibuat oleh orang
lain.

24. Kegembiraan seseorang tidak didasarkan dari berapa
banyak yang dimilikinya, namun karena sedikit sekali
berhitungan dengan orang lain.

25. Setelah penderitaan berlalu, akan tiba masa yang
penuh berkah. Setelah keberkahan habis dinikmati, maka
kesedihan akan datang menerpa.

26. Renungkan selalu kesalahan yang pernah dilakukan.
Jangan perbincangkan baik buruknya orang lain.

27. Bukan banyak uang yang membuat seseorang merasa
gembira, tidak pernah melakukan yang bertentangan
dengan hati nurani membuat hidup tentram.

28. Sebelum mengkritik orang lain, pikirkan dahulu
apakah kita sendiri telah sempurna dan bebas dari
kesalahan.

29. Jika enggan mengerjakan hal kecil, maka sulit
menyelesaikan tugas yang besar.

30. Kesuksesan yang paling besar dalam hidup adalah
bisa bangkit kembali dari kegagalan.

31. Ucapan yang baik, bagai bunga teratai yang keluar
dari mulut; Ucapan yang buruk, seperti bisa ular yang
disemburkan dari mulut.

32. Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam
kehidupan: berbakti pada orang tua dan melakukan
kebajikan.

33. Moralitas adalah sebuah pelita dalam peningkatan
kepribadian, tidak seharusnya merupakan cambuk
penghukum bagi orang lain.

34. Menghargai dan merasa senang atas keberhasilan
orang lain berarti meningkatkan harkat diri sendiri.

35. Selalu berbaik hati selalu memperoleh hari-hari
yang baik.

36. Memberi maaf dan berbicara dengan ramah meskipun
kita berada dipihak yang benar.

37. Menerima kebajikan sekecil apapun harus dibalas
sebesar-besarnya.

38. Hendaknya kita menyadari, mensyukuri, dan membalas
budi orang tua.

39. Sepatah kata yang menghangatkan hati, ibarat
setetes parfum yang kita semprotkan ketubuh orang
lain, kita sendiri akan kecipratan wanginya.

40. Kita harus melakukan kegiatan pelestarian
lingkungan masyarakat dengan baik demikian juga dengan
kelestarian lingkungan batin kita.

41. Tetesan air dapat membentuk sebuah sungai,
kumpulan butiran beras bisa memenuhi lumbung. Jangan
meremehkan hati nurani sendiri, jangan pernah berpikir
untuk tidak melakukannya walau perbuatan itu sangat
kecil.

42. Sedikit berbicara lebih baik daripada banyak
berbicara, akan lebih baik lagi jika hanya membicarakan
hal yang baik-baik saja.

43. Setiap orang sulit terhindar dari membuat
kesalahan, yang dikhawatirkan tidak berkeinginan untuk
memperbaikinya. Sedangkan memperbaiki kesalahan
bukanlah suatu hal yang sulit dilakukan.

44. Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah, bila
tidak ditanami dengan bibit yang baik, tentu tidak
akan bisa menuai hasil yang baik.

45. Orang yang bijaksana baru mampu membedakan yang
baik dan yang buruk, yang benar dan yang sesat; Orang
yang rendah hati baru bisa membangun kehidupan yang
indah sempurna.

46. Orang berbudi luhur mempunyai tujuan hidup, sedang
orang yang berhati picik menganggap hidup sebagai
tujuan.

47. Di dalam kehidupan, kita tidak selalu berada dalam
kondisi yang baik-baik saja, namun bagi yang pernah
mengalami cobaan dan berhasil mengatasinya, akan
sangat mudah menghadapi kondisi yang sesulit apapun.

48. Permasalah sukar dan sulit diputuskan dalam hidup
adalah suatu cobaan.

49. Sertakan saya dalam perbuatan baik; jangan
libatkan saya dalam perbuatan jahat.

50. Kasih sayang yang sesungguhnya adalah menjaga
kondisi hati kita dengan sebaik-baiknya.

51. Mampu bertoleransi dan lebih mengasihi orang lain,
kita akan hidup dengan sangat gembira.

52. Mampu menyumbangkan cinta kasih adalah suatu
keberkahan. Mampu menghapus kerisauan adalah sifat
yang bijaksana.

53. Anggaplah segala permasalahan sebagai pelajaran
dan pujian sebagai peringatan untuk mawas diri.

54. Orang yang menganggur tidak akan merasakan
kenikmatan hidup; orang yang beraktifitas, tidak
memiliki waktu untuk berselisih dengan orang lain.

55. Mata manusia berada di bagian depan, hanya dapa
melihat kekurangan orang lain, sama sekali tidak bisa
melihat kekurangan diri sendiri.

56. Dengan memiliki keyakinan, keuletan dan
keberanian, maka tidak ada yang tidak berhasil
dilakukan di dunia ini.

57. Memperbaiki prilaku sendiri adalah untuk menolong
diri sendiri, mampu mempengaruhi orang untuk berbuat
baik adalah untuk menolong orang.

58. Bangkitnya amarah adalah kegilaan sesaat.

59. Jangan mengenang terus jasa pahala yang telah
diberikan, jangan melupakan kesalahan yang pernah
dibuat. Lupakanlah dendam yang ada di dalam hati,
jangan melupakan budi baik yang pernah diterima.

60. Niat baik mendatangkan keberkahan, Tekad akan
menimbulkan kekuatan; Keberkahan harus diciptakan
sendiri, hingga akan mendapatkan jalinan jodoh yang
baik.

61. Yang mencelakai diri sendiri tidak lain adalah
kemarahan yang tidak pada tempatnya.

62. Orang yang dapat memanfaatkan waktunya dengan
baik, pasti bisa menguasai arah tujuan yang ingin
dicapai.

63. Merasa menyesal atas kesalahan yang telah
dilakukan, baru membuat hati jadi suci bersih tanpa
kerisauan.

64. Lakukanlah menurut kemampuan yang ada, jangan
berniat untuk menunda, ada kemungkinan anda tidak
mendapatkan apa apa.

65. Yang terindah di langit adalah bintang-bintang
bergemerlapan, sedangkan yang terindah dalam hidup
adalah kehangatan kasih sayang.

66. Orang yang berbudi sifatnya bagaikan air yang
dapat menyesuaikan diri dalam berbagai bejana, hidup
dalam kondisi bebas leluasa.

67. Padi yang berisi akan semakin merunduk; Seseorang
yang sukses semakin rendah hati.

68. Berhenti di tengah perjalanan akan lebih sulit dan
terasa lebih melelahkan daripada terus berjalan hingga
sampai ke tujuan.

69. Dalam pelatihan moral hendaknya melatih sesuai
dengan jalinan jodoh, di dalam kehidupan sehari hari
dan melakukannya dimana saja.

70. Jangan berbuat semena-mena, didiklah diri sendiri
sesuai keinginan hati.

71. Di kala memiliki, harus selalu mengenang
penderitaan di saat tak punya; dalam cuaca baik harus
mempersiapkan persediaan di musim hujan.

72. Alam semesta ada batasnya, kekuatan tekad kita ak
terhingga. Mudah mengikrarkan sebuah tekad, tapi sulit
melaksanakannya.

73. Perbuatan baik hendaknya bisa dioptimalkan,
permasalahan harus ditinggalkan. Mensukseskan orang
lain berarti mensukseskan diri sendiri.

74. Lebih baik bekerja keras dan benar-benar
melakukannya daripada berkemampuan tapi tidak
melakukannya sama sekali.

75. Orang harus menyayangi diri sendiri baru dapat
mencintai semua orang di dunia.

76. Dalam mengatasi berbagai masalah hendaknya
berhati-hati, cermat, namun jangan berpikiran sempit.

77. Jangan merasa khawatir pada banyaknya masalah,
yang dikhawatirkan adalah masalah yang dicari-cari.

78. Orang tidak mempunyai hak milik atas nyawanya,
tetapi hanya memiliki hak untuk mempergunakannya.

79. Dusta bagaikan sekuntum bunga yang sedang
mekar-mekarnya, berpenampilan indah namun hanya dalam
waktu yang singkat.

80. Sebuah gelas yang sumbing pinggirannya, jika
dipandang dari sudut yang lain, mulut gelas itu masih
tetap merupakan sebuah lingkaran.

81. Ikrar harus luhur, tekad harus kokoh, kepribadian
harus lemah lembut, dan hati harus cermat.

82. Berikrar dalam hati dan tidak pernah menyatakan
dalam tindakan, sama halnya seperti bertani tanpa
menebar bibit, hanya menyia-nyiakan sebuah jalinan
jodoh.

83. Orang yang welas asih tidak mempunyai musuh, orang
yang bijaksana tidak akan merasa risau.

84. Berdana bagai menerbakan bibit, bibit baru akan
bertunas bila disirami dengan perasaan hati yang
bersuka cita.

85. Orang berbudi berketetapan hati menggapai
cita-citanya, orang yang picik hanya memiliki
cita-cita dan tidak pernah berusaha.

86. Kita hendaknya bisa menyadari, menghargai, dan
menciptakan keberkahan.

87. Menjalankan yang sulit dijalankan, merelakan yang
sulit direlakan dan melakukan yang sulit dilakukan,
baru bisa meningkatkan kepribadian diri sendiri.

88. Hanya orang yang bisa menghargai dirinya sendiri
baru mempunyai keberanian untuk lebih rendah hati.

89. Ketamakan, kemarahan dan kebodohan merupakan 3
racun dalam kehidupan manusia. Atasilah ketamakan
dengan berdana, kemarahan dengan hati yang welas asih
dan kebodohan dengan hati yang bijaksana.

90. Cinta kasih hendaknya tidak membeda-bedakan ras
dan negara, asalkan sebuah kehidupan, semuanya harus
dihargai dan diberikan perhatian.

91. Adanya keluarga yang sehat, baru ada masyarakat
yang baik akan menciptakan negara yang baik pula.

92. Jangan khawatir tidak dapat menyelesaikannya, yang
dikhawatirkan adalah tidak melakukannya sama sekali.

93. Penyesalan adalah pengakuan dari hati nurani, juga
boleh dikatakan sebagai pembersihan besar-besaran
terhadap polusi spritual.

94. Berdana bukanlah hak khusus orang kaya, tapi
merupakan implementasi dari sebuah cinta kasih yang
tulus.

95. Melayani setiap orang dengan tulus, menundukkan
hati setiap orang dengan moralitas adalah sistem
managemen terbaik.

96. Ada orang yang berkata, “Asal berhati baik sudah
cukup” Namun percuma saja berhasil baik, kalau tidak
diwujudkan dalam tindakan nyata, tidak akan
menghasilkan suatu perbuatan yang baik.

97. Panjangnya usia seseorang setara dengan berapa
banyak pekerjaan yang telah dilakukan di dunia, maka
harus berlomba dengan waktu, jangan biarkan waktu
berlalu dengan sia-sia.

98. Welas asih tanpa penyesalan, berbelas kasih tanpa
kebencian, bersuka cita tanpa kerisauan, bersumbangsih
tanpa pamrih.

99. Berikrar harus bertujuan memberi manfaat yang
besar bagi orang banyak, juga harus dilakukan sendiri
kapan saja dan dimana saja.

100. Adanya cinta kasih di dalam hati, baru bisa
dicintai oleh semua orang.

101. Hidup manusia tidak kekal. Bersumbangsihlah
segera dikala masyarakat memerlukan anda, lakukanlah
selama anda masih bisa melakukannya.

102. Jadilah orang yang tidak mengandalkan kekuasaan,
status sosial dan harta kekayaan dalam menjalani
hidupnya.

103. Malapetaka dan bencana yang melanda dunia,
sebagian besar adalah hasil dari perbuatan orang yang
sehat jasmaninya, namun cacat rohaninya.

104. Setiap hari merupakan lembaran baru dalam
hidupku. Setiap orang dan setiap hal yang ada di
dalamnya semuanya adalah kisah-kisah yang menarik.

105. Seandainya kita dibutuhkan dan dapat
menyumbangkan sesuatu bagi orang lain adalah kehidupan
yang paling berbahagia.

106. Ketetapan hati bagai tetesan air yang dapat
menembus batu karang, kesulitan dan rintangan sebesar
apapun juga dapat diatasi.

107. Tidak bertikai bukan berarti tidak peduli pada
segala hal, bisa bersatu hati, ramah tamah, saling
mengasihi dan bergotong royong dengan semua orang baru
disebut tanpa pertikaian.

108. Ada tiga “tidak” di dunia ini; tidak ada orang
yang tidak saya cintai, tidak ada orang yang tidak
saya percayai dan tidak ada orang yang tidak bisa saya
maafkan.

109. Orang bodoh membangun tembok pemisah dalam hatinya,
orang bijaksana merobohkan tembok pemisah tersebut dan hidup
berdampingan secara damai dengan orang lain.

110. Kesuksesan yang paling besar dalam hidup
adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.

111. Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam
kehidupan: berbakti kepada orangtua dan melakukan kebajikan.

112. Jika ingin meningkatkan kebijaksanaan, kita mesti
membebaskan diri dari sifat kemelekatan dan keraguan.

113. Cita-cita boleh saja tinggi dan jauh kedepan, namun
langkah yang diperlukan untuk itu, harus diterapkan sejak sekarang.

114. Jangan mengenang terus jasa yang telah diberikan, jangan
melupakan kesalahan yang pernah dibuat. Lupakanlah dendam yang
ada di dalam hati, namun jangan melupakan budi baik yang pernah diterima.

115. Keinginan yang belebihan, selain mendatangkan penderitaan
juga sering menggiring orang melakukan perbuatan yang mendatangkan karma buruk.

116. Jangan takut terdorong oleh orang-orang yang lebih mampu dari kita.
Karena dorongan tersebut akan memberi semangat untuk terus maju.

117. Orang tidak mempunyai hak milik atas nyawanya, melainkan
hanya memiliki hak untuk menggunakannya.

118. Tetesan air dapat membentuk sebuah sungai, kumpulan butiran
beras bisa memenuhi lumbung. Jangan meremehkan hati nurani sendiri, lakukankalh
perbuatan baik meskipun kecil.

119. Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah, bila tidak
ditanami dengan bibit yang baik, tidak akan bisa menuai hasil yang baik.

120. Orang berbudi luhur mempunyai tujuan hidup, sedang
orang yang berpikiran sempit menganggap hidup sebagai tujuan.

121. Sertakan saya dalam perbuatan baik, jangan
libatkan saya dalam perbuatan jahat.

122. Anggaplah segala permasalahan sebagai pelajaran, pujian
sebagai peringatan untuk mawas diri.

123. Dengan memiliki keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak
ada hal yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.

124. Orang harus menyayangi diri sendiri baru
dapat mencintai orang di seluruh dunia.

125. Dalam mengatasi berbagai masalah hendaknya
berhati-hati, cermat, namun jangan berpikiran sempit.

126. Tidak perlu merasa khawatir atas banyaknya masalah, yang perlu
dikhawatirkan hanya masalah yang sengaja dicari-cari.

127. Hendaknya kita menyadari, mensyukuri, dan membalas budi orangtua.

128. Jika enggan mengerjakan hal kecil, maka
kita pun akan sulit menyelesaikan tugas yang besar.

129. Ikrar harus luhur, tekad harus kokoh, kepribadian
harus lemah lembut, dan hati harus peka.

130. Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang
mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.

131. Keserakahan, kebencian, dan kebodohan merupakan 3 racun
dalam kehidupan manusia. Atasi keserakahan dengan berdana, kebencian
dengan hati yang welas asih, dan atasi kebodohan dengan kebijaksanaan.

132. Penyesalan adalah pengakuan dari hati nurani, dan
dapat juga dikatakan sebagai pembersihan terhadap kekotoran batin.

133. Berdana bukanlah hak khusus yang dimiliki orang kaya, melainkan
merupakan perwujudan dari sebuah cinta kasih yang tulus.

134. Hidup manusia tidak kekal. Bersumbangsihlah pada saat
Anda dibutuhkan, dan lakukanlah selama Anda masih bisa melakukannya.

135. Jadilah orang yang tidak mengandalkan kekuasaan, status
social, dan harta kekayaan dalam menjalani hidup.

136. Malapetaka dan bencana yang melandai dunia, sebagian
besar merupakan hasil perbuatan orang-orang yang sehat jasmaninya, namun cacat rohaninya.

137. Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri sendiri.

138. Ada tiga “tiada” di dunia ini, tiada orang yang tidak
saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, dan tiada orang yang tidak bisa saya maafkan.

139. Pikiran dan perilaku kita sendiri yang
menciptakan dan menentukan surga dan neraka.

140. Sumber penderitaan manusia ada 3, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kebodohan.

141. Penyakit pada tubuh tidaklah menakutkan, batin
yang sakit justru lebih mengerikan.

142. Kebijaksanaan diperoleh dari bagaimana seseorang
menghadapi masalah dalam hidupnya. Apabila ia menghindar dari
masalah yang ada, maka ia pun tidak akan dapat mengembangkan kebijaksanaannya.

143. Sumber dari kerisauan hati adalah keinginan
manusia untuk selalu “memiliki”.

144. Ada sebagain orang yang sering merasa risau, akibat
perkataan buruk orang lain yang sebenarnya tidak perlu dihiraukan.

145. “Keserakahan”, selain membawa penderitaan, juga
akan menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan.

146. Sebelum mengkritik orang lain, pikirkan dahulu apakah
kita sendiri telah sempurna dan bebas dari kesalahan.

147. Setiap hari merupakan lembaran baru dalam hidup kita,
setiap orang dan setiap hal yang ada di dalamnya merupakan kisah-kisah yang menarik.

148. Bila kita selalu ragu dan tidak memiliki tekad yang kuat, walaupun jalan yang benar telah terbentang di depan mata, kita tetap tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan.

149. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang penuh dengan cinta kasih.

150. Dengan menjaga tutur kata dan bersikap dengan baik, maka kita akan menjadi orang yang disenangi dan dicintai orang lain.

151. Mengernyitkan dahi dan tersenyum, keduanya sama-sama merupakan sebuah ekspresi, mengapa tidak tersenyum saja?

152. Hati hendaknya bagaikan bulan purnama yang bersinar terang. Hati hendaknya juga seperti cakrawala luas dengan langit yang cerah.

153. Niat baik yang tidak dilaksanakan sama halnya seperti bertani tanpa menebarkan benih. Hal ini hanya menyia-nyiakan kesempatan baik yang ada.

154. Setiap hari kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada orangtua dan semua makhluk. Jangan melakukan sesuatu yang mengecewakan mereka.

155. Memberi dan melayani jauh lebih berharga dan membahagiakan daripada diberi dan dilayani.

156. Tidak peduli seberapa jauh jalan yang harus ditempuh dan selalu berusaha sebaik mungkin mencapai tujuan dengan kemampuan yang dimiliki, inilah yang disebut dengan keuletan.

157. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang mampu mencintai dan dicintai orang lain.

158. Sebaik apa pun hati seseorang, bila tabiat dan tutur katanya tidak baik, maka ia tidak dapat dianggap sebagai orang baik.

159. Kasih sayang yang mengharapkan pamrih tidak akan bertahan lama. Yang akan bertahan selamanya adalah kasih sayang yang tak berwujud, tak ternoda, dan tanpa pamrih.

160. Cinta kasih harus bagaikan seduhan the wangi dengan komposisi yang pas. Bila terlalu pekat akan terasa pahit dan kita tidak dapat meminumnya.

161. Hadiah paling berharga di dunia ini adalah hadiah berbentuk maaf.

162. Bertuturlah dengan kata yang baik, berpikirlah dengan niat yang baik dan lakukanlah perbuatan baik.

163. Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tak terhingga.

164. Kesuksesan hidup selama puluhan tahun merupakan akumulasi perilaku setiap hari, maka setiap hari kita harus menjaga perilaku dengan sebaik-baiknya.

165. Semua manusia takut mati, takut menderita, apakah makhluk hidup lain tidak merasa takut juga? Oleh karena itu, kita harus melindungi semua makhluk hidup dan menghargai kehidupan.

166. Marah adalah menghukum diri sendiri atas kesalahan yang diperbuat oleh orang lain.

167. Hendaknya kita bersaing untuk menjadi siapa yang lebih dicintai, bukan siapa yang lebih ditakuti.

168. Musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri.

169. Bekerja untuk hidup sangat menyiksa, hidup untuk bekerja sangat menyenangkan.

170. Sumber penderitaan manusia adalah nafsu keserakahan untuk memiliki. Bila tidak bisa memperoleh yang diingankannya, dia akan menderita, namun bila telah memperolehnya, dia juga akan menderita karena takut kehilangan.

171. Kesederhanaan adalah keindahan, keserasian adalah keanggunan.

172. Hakekat terpenting dari pendidikan adalah pewarisan cinta kasih dan rasa syukur, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

173. Kita hendaknya bersyukur kepada bumi yang menyediakan sumber daya alam sehingga kita dapat melanjutkan kehidupan, dan bersyukur kepada leluhur yang telah menyediakan lahan dan mengajarkan kita bagaimana cara untuk bertahan hidup.

174. Hati yang dipenuhi rasa syukur akan membangkitkan rasa haru. Rasa haru merupakan dorongan untuk melakukan kebajikan.

175. Bila dituduh orang lain, terimalah dengan rasa syukur. Bila menemukan kesalahan orang lain, sadarkan dengan sikap menghargai.

176. Bersyukurlah kepada orang yang menerima bantuan kita, karena mereka memberikan kesempatan baik bagi tercapainya pembinaan rasa cinta kasih kita.

177. Merupakan suatu berkah apabila sesama manusia dapat saling menghargai dan saling bersyukur.

178. Dengan berjiwa besar, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan di dunia ini. Bila berjiwa sempit, walaupun kesenangan berlimpah, kita akan tetap merasa menderita.

179. Mengurangi nafsu keinginan dan memperluas cinta kasih, kehidupan akan dilalui dengan gembira, nyaman dan bebas tanpa beban.

180. Pandai menempatkan diri dan berpikir demi orang lain adalah sikap orang yang penuh pengertian.

181. Pada umumnya orang lebih dapat menanggung beban kerja yang berat daripada menanggung kebencian, namun orang yang berkepribadian mulia adalah orang yang dapat melupakan kebencian.

182. Cara berterima kasih dan membalas budi kepada bumi adalah dengan terus mempertahankan konsep pelestarian lingkungan.

183. Intropeksi dirilah bila mendapat kritikan orang lain. Jika salah harus diperbaiki; bila tidak bersalah, cobalah untuk menerimanya dengan lapang dada.

184. Berjiwa besar menerima kekurangan orang lain merupakan suatu hal yang luar biasa di tengah hal yang biasa.

185. Binalah cinta kasih yang tulus dan murni. Hati tidak akan risau bila tidak mengharapkan pamrih atau merasa rugi dalam memberikan cinta kasih.

186. Menghibur orang dengan kata-kata yang baik dan lembut, melerai perselisihan dengan kata-kata bijaksana dan membantu kesulitan orang lain dengan tindakan nyata, inilah yang dinamakan berdana.

187. Selalu mengejar kenikmatan materi adalah sumber penderitaan manusia. Menderita bila tak bisa memperolehnya, dan bila bisa memperolehnya akan merasa belum puas. Semuanya merupakan penderitaan yang tak akan pernah berakhir.

188. Mampu merasakan kebahagiaan orang lain seperti kebahagiaan sendiri adalah kehidupan yang penuh dengan kepuasan dan paling kaya akan makna.

189. Jangan menganggap enteng perbuatan baik sekecil apa pun, karena bila terhimpun menjadi satu merupakan bantuan yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain.

190. Seulas senyuman mampu mendamaikan hati yang gelisah.

191. Kehidupan kita bermakna apabila kita dapat bermanfaat bagi orang lain.

192. Jangan mencemaskan beban yang berat, asalkan tetap berjalan di arah yang benar, pasti akan samapi ke tujuan.

193. Orang yang selalu mengasah orang lain, dirinya sendiri akan terasah, namun bagi orang yang selalu diasah, selain tidak rusak, malah akan lebih bersinar cemerlang, bagaikan berlian yang sesungguhnya.

194. Prinsip penting mencapai keselarasan dalam penyelesaian masalah adalah menyadari kapan saatnya maju dan kapan saatnya mengalah.

195. Dengan bersabar dan mengalah, hidup akan damai dan tenteram; saling bersitegang akan mendatangkan malapetaka.

196. Genggamlah kesempatan untuk berbuat kebajikan. Bila hanya menunggu, kesempatan itu akan berlalu dan semuanya sudah terlambat.

197. Mampu mematuhi tata tertib dalam berorganisasi, berpadu hati, ramah tamah, saling mengasihi, dan bergotong royong, berarti sebuah kemajuan yang telah dicapai dalam melatih diri yang dilakukan dengan penuh konsentrasi.

198. Jangan menyia-nyiakan waktu; lakukan hal yang bermanfaat dengan langkah yang mantap.

199. Tak ada yang tidak dapat diatasi dalam hidup ini; dengan adanya tekad, maka segalanya akan dapat diatasi.

200. Jangan pusingkan apakah orang akan memperbaiki perilaku atau sikap buruknya, yang terpenting adalah kita tetap melatih diri dengan sebaik mungkin.

201. Bila cermin dalam hati dapat selalu dibersihkan, maka dapat secara jelas membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah.

202. Jadikan batin kita sebagai tempat pelatihan diri dan hargailah semua orang dengan sikap kesetaraan.

203. Sebuah tindakan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan ribuan ucapan.

204. Walaupun memiliki impian dan harapan pada masa berabad-abad kedepan, namun jangan sampai mengabaikan hal yang ada pada saat sekarang.

205. Kepintaran adalah kemampuan untuk membedakan mana yang menguntungkan dan merugikan. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah.

206. Jangan meremehkan kemampuan sendiri, karenanya mulailah dengan mengubah kondisi hati kita barulah dapat mengubah dunia agar menjadi lebih baik.

207. Lebih baik belajar dari kelebihan orang lain daripada mencari kelemahan dan kesalahan orang lain.

208. Hadapilah kesalahan orang lain dengan lapang dada dan lemah lembut.

209. Iblis yang ada di luar diri kita tidaklah menakutkan, yang mengerikan adalah iblis yang terdapat di dalam hati.

210. Kehidupan manusia bagaikan meniti kawat baja. Bila kita tidak bersungguh-sungguh melihat ke depan, malah sebaliknya selalu menoleh ke belakang, kita pasti akan terjatuh.

211. Faktor pemersatu dalam organisasi adalah toleransi dan tenggang rasa terhadap pendapat yang berbeda.

212. Berbakti adalah sikap yang bersedia berkorban pada saat dibutuhkan oleh orangtua.

213. Kebiasaan buruk bagaikan virus yang menyerang batin manusia, harus dicegah jangan sampai berkembang.

214. Berdana ada 3 macam, memberi bantuan makanan dan pakaian, memberikan nasehat bagi orang yang hatinya sedang hampa, dan memberikan kedamaian kepada orang yang panic dan ketakutan.

215. Masalah di dunia tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, dibutuhkan uluran tangan dan kekuatan banyak orang untuk dapat menyelesaikan. 


216. Orang yang mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya dengan rendah hati akan dapat meningkatkan kebijaksanaanya.


menjalani kehidupan




Menjalani Kehidupan Menurut Ajaran Sang Buddha





pendahuluan

cerita burung camar dan burung gagak
jaman dahulu kala, sewaktu kong fu cu mengunjungi lao zi untuk berdiskusi tentang kebaikan dan kebenaran.
lao zi berkata kepada kong fu cu, “putihnya camar bukan karena ia mandi setiap hari, dan hitamnya burung gagak bukan karena ia di celup tinta hitam setiap hari”.
“hitam dan putih adalah alami, tidak bisa mengatakan ini bagus dan yang itu buruk. membedakan baik dan buruk dengan konsep kebaikan dan kebenaran bagi manusia yang mengerti tao, manusia yang berpikir seperti itu telah membuat kesalahan seperti burung camar dan burung gagak”, lanjut lao zi
Menjalani Kehidupan Menurut Ajaran Sang Buddha
“bila kita mencoba untuk hidup sebagai manusia sejati tanpa mengganggu orang lain, semua dapat hidup dengan damai tanpa rasa takut”.
umat buddha tidak menganggap manusia sebagai penuh dosa dari asalnya. setiap manusia adalah orang yang sangat berharga yang dalam dirinya terdapat kebaikan dan juga kebiasaan buruk. kebaikan dalam diri seseorang selalu menanti kesempatan yang sesuai untuk berbunga dan matang. ada pepatah mengatakan,“ada begitu banyak hal baik dalam keburukan kita dan begitu banyak hal buruk dalam kebaikan kita”.
ajaran buddha mengajarkan bahwa semua orang bertanggung jawab untuk perbuatan baik dan buruknya sendiri dan bahwa setiap individu dapat membentuk nasibnya sendiri. kata sang buddha, “perbuatan buruk ini hanya di lakukan oleh dirimu, bukan oleh orang tua-mu, teman-mu atau saudara-mu. oleh karena itu dirimu sendirilah yang akan menuai hasil yang menyakitkan”. (dhammapada 165)
kesedihan kita di buat oleh diri kita sendiri dan tidak diturunkan oleh kutukan atau dosa asal dari leluhur. umat buddha tidak menerima kepercayaan bahwa dunia ini semata-mata merupakan suatu tempat percobaan dan pengujian. dunia ini dapat dibuat sebagai tempat dimana kita dapat mencapai kesempurnaan tertinggi, kesempurnaan adalah sinonim dengan kebahagiaan.
bagi sang buddha, manusia bukanlah suatu percobaan hidup yang dapat dicampakkan jika tidak di inginkan. jika dosa dapat diampuni, orang akan mengambil kesempatan dan melakukan lebih banyak dosa lagi.
umat buddha tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa pendosa dapat lepas dari konsekuensi perbuatannya dengan kemurahan dari suatu kekuatan eksternal. jika kita menyorongkan tangan ke dalam pembakaran, tangan akan terbakar dan semua doa di dunia tidak akan menghilangkan lukanya.
sama halnya dengan manusia yang berjalan ke dalam api perbuatan jahat. hal ini tidak berarti bahwa setiap perbuatan salah otomatis akan berakibat reaksi tertentu.
perbuatan jahat diawali dengan pikiran jahat, jika seseorang memurnikan pikiran, maka efek perbuatan sebelumnya dapat terkurangi atau terhapus seluruhnya. pendekatan sang buddha pada masalah penderitaan bukan khayalan, spekulasi atau metafisik tetapi berdasarkan pengalaman dan apa adanya.
bagi umat buddha, dosa adalah perbuatan yang keliru atau tidak bermanfaat (akusala kamma) yang menciptakan kejatuhan manusia (papa). orang jahat adalah orang yang gelap batin, bukan hukuman dan kutukan saja untuk membuat dia mengerti akan perbuatan jahatnya tetapi yang ia perlukan hanyalah bimbingan untuk pencerahannya.
semua yang diperlukan adalah adanya seseorang untuk menolongnya menggunakan akalnya untuk menyadari bahwa ia bertanggung jawab atas perbuatan kelirunya dan bahwa ia harus membayar konsekuensinya. karena itu kepercayaan akan pengampunan itu hal yang asing bagi ajaran buddha, walaupun umat buddha didorong untuk menyadari perbuatan mereka yang salah dan mengingatkan diri mereka sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan itu.
tujuan munculnya sang buddha di dunia ini bukanlah untuk mencuci dosa yang di lakukan oleh manusia ataupun untuk menghukum atau menghancurkan orang jahat, tetapi untuk orang memahami betapa bodohnya melakukan kejahatan itu dan menunjukan akibat dari perbuatan jahat semacam itu.
oleh karena itu, tidak ada perintah dalam ajaran buddha, karena tidak seorangpun yang dapat mengendalikan kemajuan spiritual orang lain. sang buddha telah mendorong kita untuk mengembangkan dan menggunakan pemahaman kita. sang buddha telah menunjukkan kita jalan untuk pembebasan kita dari penderitaan. aturan yang kita coba jalani bukanlah perintah, hal ini di jalani secara sukarela.
inilah ajaran sang buddha, “mohon diperhatikan, dengarkan nasehat ini dan pikirkan kembali. jika engkau pikir ini sesuai bagimu untuk mempraktikkan nasehat-ku, maka cobalah untuk mempraktikkannya. engkau dapat melihat hasilnya melalui pengalamanmu sendiri”.
sang buddha menasehati kita tentang bagaimana menjalankan kehidupan murni tanpa menetapkan perintah dan menggunakan ketakutan akan hukuman.
lima sila yang diambil oleh umat buddha sebagai praktik sehari-hari bukanlah perintah, hal itu didefinisikan sebagai aturan pelatihan yang di jalankan seseorang secara sukarela untuk pengembangan spiritualnya.
lima sila (pancasila Buddhist):
  1. membunuh mahluk hidup

  2. mengambil apa yang tidak diberikan

  3. prilaku seks yang salah

  4. berkata bohong

  5. meminum obat yang mencandu dan minuman keras
maka itu, “memahami dirimu sendiri adalah awal kebijaksanaan”.


reinkarnasi


Reinkarnasi


Reinkarnasi (dari bahasa Latin untuk "lahir kembali" atau "kelahiran semula"[1]) atau t(um)itis, merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.
Terdapat dua aliran utama yaitu pertama,mereka yang mempercayai bahwa manusia akan terus menerus lahir kembali. Kedua,mereka yang mempercayai bahwa manusia akan berhenti lahir semula pada suatu ketika apabila mereka melakukan kebaikan yang mencukupi atau apabila mendapat kesadaran agung (Nirvana) atau menyatu dengan Tuhan (moksha). Agama Hindu menganut aliran yang kedua.
Kelahiran kembali adalah suatu proses penerusan kelahiran di kehidupan sebelumnya. Dalam agama Hindu dan Buddha, filsafat reinkarnasi mengajarkan manusia untuk sadar terhadap kebahagiaan yang sebenarnya dan bertanggung jawab terhadap nasib yang sedang diterimanya. Selama manusia terikat pada siklus reinkarnasi, maka hidupnya tidak luput dari duka. Selama jiwa terikat pada hasil perbuatan yang buruk, maka ia akan bereinkarnasi menjadi orang yang selalu duka. Dalam filsafat Hindu dan Buddha, proses reinkarnasi memberi manusia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang tertinggi. Hal tersebut terjadi apabila manusia tidak terpengaruh oleh kenikmatan maupun kesengsaraan duniawi sehingga tidak pernah merasakan duka, dan apabila mereka mengerti arti hidup yang sebenarnya.

XXI.Reinkarnasi dalam agama Buddha

Dalam agama Buddha dipercayai bahwa adanya suatu proses kelahiran kembali (Punabbhava). Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut; bila ia baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.diketahui bahwa ada orang yang baik juga bisa lahir di dunia yang banyak oraang tampan

XXII.Reinkarnasi dalam Hinduisme

Dalam filsafat agama Hindu, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Pada saat manusia hidup, mereka banyak melakukan perbuatan dan selalu membuahkan hasil yang setimpal. Jika manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya yang belum sempat dinikmati. Selain diberi kesempatan menikmati, manusia juga diberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya (kualitas). Jadi, lahir kembali berarti lahir untuk menanggung hasil perbuatan yang sudah dilakukan. Dalam filsafat ini, bisa dikatakan bahwa manusia dapat menentukan baik-buruk nasib yang ditanggungnya pada kehidupan yang selanjutnya. Ajaran ini juga memberi optimisme kepada manusia. Bahwa semua perbuatannya akan mendatangkan hasil, yang akan dinikmatinya sendiri, bukan orang lain.
Menurut Hinduisme, yang bisa berinkarnasi itu bukanlah hanya jiwa manusia saja. Semua jiwa mahluk hidup memiliki kesempatan untuk berinkarnasi dengan tujuan menikmati hasil perbuatannya di masa lalu dan memperbaiki kulaitas hidupnya. Dalam kehidupan di dunia, manusia menempati strata yang paling tinggi sehingga reinkarnasi yang tertinggi adalah hidup sebagai manusia, bahkan dewa atau malaikat yang ingin sempurna hidupnya, harus turun ke dunia untuk menyempurnakan jiwatman-nya sehingga mencapaimoksa, bersatu dengan Brahman. Makhluk hidup selain manusia memiliki jiwatman yang sama. Jiwatman memiliki memori untuk mencatat dan mengenang peristiwa yang dilakukan atau dialami dalam kehidupan sewaktu masih bersatu dengan raga. Memori tersebut menghasilkan kemelekatan terdadap dunia yang terus dibawa walaupun terjadi kematian yang menyebabkan jiwatman berpisah dengan badan. Suatu saat jiwatman tersebut akan mencari raga baru yang sesuai dengan kemelekatannya pada konsepsi (janin) yang siap dimasuki roh (atman). Bila manusia mampu meniadakan kemelekatannya terhadap kehidupan dunia, maka ia akan mencapai moksa dan bersatu denganBrahman.

XXIII.Proses reinkarnasi

Pada saat jiwa lahir kembali, roh yang utama kekal namun raga kasarlah yang rusak, sehingga roh harus berpindah ke badan yang baru untuk menikmati hasil perbuatannya. Pada saat memasuki badan yang baru, roh yang utama membawa hasil perbuatan dari kehidupannya yang terdahulu, yang mengakibatkan baik-buruk nasibnya kelak. Roh dan jiwa yang lahir kembali tidak akan mengingat kehidupannya yang terdahulu agar tidak mengenang duka yang bertumpuk-tumpuk di kehidupan lampau. Sebelum mereka bereinkarnasi, biasanya jiwa pergi ke surga atau ke neraka.
Dalam filsafat agama yang menganut faham reinkarnasi, neraka dan sorga adalah suatu tempat persinggahan sementara sebelum jiwa memasuki badan yang baru. Neraka merupakan suatu pengadilan agar jiwa lahir kembali ke badan yang sesuai dengan hasil perbuatannya dahulu. Dalam hal ini, manusia bisa bereinkarnasi menjadi makhluk berderajat rendah seperti hewan, dan sebaliknya hewan mampu bereinkarnasi menjadi manusia setelah mengalami kehidupan sebagai hewan selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Sidang neraka juga memutuskan apakah suatu jiwa harus lahir di badan yang cacat atau tidak.

XXIV. Nilai Kehidupan Dalam Buddhist

Sekitar 700 tahun yang lalu di Jepang, seorang Maha Bodhisattva, Nichiren Shonin, seorang reformis Buddhisme menuliskan sebuah surat untuk murid-muridnya, sebagai berikut :
“Kita harus menghargai semua kehidupan mulai dari yang paling bijaksana sampai yang paling rendah, serta juga kepada binatang seperti nyamuk atau mahluk lainnya. Oleh karena itu, perbuatan apa pun yang tidak menghargai kehidupan adalah sebuah kejahatan terbesar. Ketika Sang Tathagata muncul didunia saha ini, Ia menunjukkan welas asih yang besar terhadap semua kehidupan dengan membabarkan ajaranNya. Untuk menunjukkan rasa welas asihnya, Ia tidak melakukan pembunuhan untuk makanan dan minumanNya dan ini merupakan wujud ajaran pertamanya . ” ( Myomitsu Shonin Goshosoku, 1276)
Nichiren Shonin menjadikan pemahaman dan nilai-nilai ini sebagai wujud penghargaan bagi sebuah kehidupan yang mengacu pada apa yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni. Nilai-nilai kemanusiaan dalam Buddhisme dicerminkan dalam Pancasila Buddhis yakni; Tidak Membunuh, Tidak Mencuri, Tidak Berzinah, Tidak Berbohong, Tidak Meminum Minuman Keras. Jika kita mampu menempatkan nilai-nilai ini dalam hati, pikiran dan badan kita, maka segala kekerasan, kebencian dan pertengkaran akan terhindarkan. Saddharma Pundarika Sutra juga mengajarkan tentang "Way Of Life" melalui berbagai pembabaran dan contoh perumpamaan yang diajarkan, seperti :
  1. Sikap Menghargai dan Penghormatan terhadap semua orang, BAB. II, Upaya Kausalya, dan BAB XX, Bodhisattva Sadaparibhuta;
  2. Sikap Welas Asih terhadap semua mahluk hidup, BAB.XXV, Bodhisattva Avalokitesvara;
  3. Sikap Tidak membenci, Penghargaan dan Kesetaraan manusia, BAB.XII, Devadatta;
  4. Sikap Kejujuran dan Ketulusan, BAB.XXVIII, Bodhisattva Samantabadra;
  5. Sikap kebijaksanaan, pengertian dan keterbukaan, BAB XXVII dan BAB.XXIII, Bodhisattva Baisajaraga
Oleh karena itu tidaklah mustahil bagi mereka yang percaya dan menjalankan dengan sungguh-sungguh ajaran Sang Buddha akan menjadi seorang yang menghargai sebuah kehidupan dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, menjadi manusia yang penuh keluhuran budi pekerti dan prilaku. Inilah yang dikatakan “Hukumnya Agung, Manusianya Luhur.” Sikap Penghargaan terhadap nilai kehidupan diberikan pada semua hal, baik manusia, binatang, tumbuhan, mahluk lain yang kelihatan maupun tidak kelihatan, dan lingkungan alam. Dalam Dhammapada, Buddha Sakyamuni Buddha menyarankan kepada para pengikutnya untuk menempatkan penghargaan terbesar bagi kehidupan semua mahluk hidup dan mengingatkan untuk menahan diri dari melakukan kekerasan terhadap mahluk apapun juga.
“Semua orang takut akan hukuman, semua orang takut akan kematian, sama halnya seperti kamu. Oleh karena itu janganlah membunuh atau menyebabkan pembunuhan. Semua orang takut akan hukuman, semua orang mencintai kehidupan, sama halnya
seperti kamu. Oleh karena itu janganlah membunuh atau menyebabkan pembunuhan.” (Dhammapada 129-130)
Nichiren Shonin hidup dalam sebuah masyarakat yang sering terlibat dalam peperangan, pembunuhan dan segala bentuk kekejaman. Ia mendasarkan diri pada Saddharma Pundarika Sutra, dan mengajarkan bahwa sudah sepantasnya semua mahluk hidup saling hormat menghormati. Karenanya meskipun Beliau mengalami beberapa kali tindakan kekerasan, Ia tidak membalas dengan kekerasan pula, bahkan Ia berusaha memberikan kesadaran bagi mereka yang melakukan kekerasan kepadaNya.
Ini karena semua mahluk mempunyai potensi untuk mencapai “KeBuddhaan” atau “Yang Tersadarkan.” Orang “Yang Tersadarkan” adalah seseorang yang penuh dengan keindahan, welas asih, dan kebijaksanaan yang menyinari seluruh alam semesta, mereka bagaikan permata harapan yang tak ternilai atau seperti indahnya bunga teratai. Maka itu jauhkanlah segala kekerasan disekelilingnya atau yang diarahkan kepadanya, Nichiren Shonin menegaskan tentang nilai kehidupan dengan menyatakan:
“…..dalam kehidupan ini, hidup itu adalah harta yang paling bernilai dari semua harta. Bahkan semua harta yang ada dialam semesta ini tidak dapat dibandingkan dengan nilai kehidupan itu.”(Jiri Kuyo Gosho, 1275)
Dalam Buddhisme terdapat Empat Janji Agung Bodhisattva yang menjadi Jalan Pelaksanaan untuk mencapai KeBuddhaan yakni :
1. Kesadaran Diri adalah tak terhingga, kami berjanji untuk menyelamatkan seluruh mahluk hidup. Mahluk hidup mencakupi semua aspek kehidupan; manusia, bukan manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, air, udara dan alam sekitarnya. Kita harus menghargai segala bentuk kehidupan dengan turut melestarikannya, menjaga lingkungan, menciptkan lingkungan yang lebih baik.
2. Hawa Nafsu kami adalah tidak terbatas, kami berjanji untuk mengalahkan mereke semua. Hawa nafsu yang tidak terkontrol akan menyebabkan penderitaan baik bagi diri sendiri maupun orang lain, karena itu kita harus berusaha menjadi “Tuan” dari hawa nafsu bukan “Budak” dari hawa nafsu kita.
3. Ajaran Sang Buddha adalah tidak terjangkau, kami berjanji untuk mempelajari semuanya. Sebagai murid Sang Buddha sudah seharusnya kita mempelajari semua ajaranNya dengan baik dan berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Jalan KeBuddhaan adalah tidak ada bandingannya, kami berjanji untuk mencapai Jalan Kesadaran. Manusia yang telah mencapai Kesadaran, akan menjadi permata bagi lingkungan sekitarnya, sehingga segala kebaikan, kedamaian dan kebahagiaan akan tercapai.


Akhir proses reinkarnasi


Selama jiwa masih terikat pada hasil perbuatannya yang terdahulu, maka ia tidak akan mencapai kebahagiaan yang tertinggi, yakni lepas dari siklus reinkarnasi. Maka, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi tersebut, roh yang utama melalui badan kasarnya berusaha melepaskan diri dari belenggu duniawi dan harus mengerti hakikat kehidupan yang sebenarnya. Jika tubuh terlepas dari belenggu duniawi dan jiwa sudah mengerti makna hidup yang sesungguhnya, maka perasaan tidak akan pernah duka dan jiwa akan lepas dari siklus kelahiran kembali. Dalam keadaan tersebut, jiwa menyatu dengan Tuhan (Moksha ).

Kamis, 05 Februari 2015

cara menghadapi kenyataan




CARA MENGHADAPI KENYATAAN

Bagaimana cara terbaik bagi seseorang dalam menghadapi peristiwa kematian yang tak terelakkan ini? Terlebih dahulu kita harus menyadari dan merenungkan bahwa kematian akan dan pasti tiba dalam waktu yang cepat atau lambat. Akan tetapi hal ini bukanlah berarti umat Buddha harus memandang kehidupan dengan suram, karena kematian merupakan kenyataan dan harus dihadapi oleh setiap makhluk. Buddha-Dhamma adalah suatu agama atau Ajaran yang dapat diterima oleh akal pikiran dan umat Buddha dilatih untuk menghadapi kenyataan yang kadang-kadang tidak menyenangkan. Guru Nanak berkata: “Dunia mencemaskan kematian, tetapi bagiku kematian itu membawa kebahagiaan”. Hal ini jelas menunjukkan bahwa orang-orang besar dan mulia tidak takut akan kematian, dan mereka selalu siap menghadapinya. Banyak orang besar yang telah mengorbankan hidup mereka demi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak.

Nama-nama mereka tercatat dalam sejarah dunia dengan tinta emas. Pemimpin besar Amerika, Saul Alinsky berkata: “Satu hal terpenting yang pernah saya pelajari adalah bahwa saya akan mengalami kematian, dan sekali anda dapat menerima kematianmu sendiri, maka seketika itu juga anda bebas untuk hidup. Anda tidak lagi peduli dan selama hidup dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai suatu tujuan yang anda yakini”. Hal ini merupakan cara pribadi-pribadi besar memandang konsep tentang kematian.

masalah hidup




Cara Berpikir Buddhis dalam Menghadapi Masalah Hidup

Dalam pengertian Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha sejak hampir 3000 tahun yang lalu, segala kejadian yang dialami maupun dihadapi oleh seseorang sebenarnya adalah NETRAL sifatnya. Oleh karena itu, segala bentuk permasalahan hidup yang dirasakan oleh setiap orang sesungguhnya hanya timbul karena pikiran orang itu sendiri yang tidak tepat dalam menyikapi kenyataan yang dihadapinya. Segala kenyataan hidup adalah netral, tidak memberikan kebahagiaan maupun menyebabkan penderitaan untuk seseorang.
Ketika seseorang mampu berpikir positif dalam menghadapi suatu kenyataan atau peristiwa, ia akan merasakan kebahagiaan terhadap apapun kenyataan yang sedang ia alami. Sebaliknya, ketika seseorang berpikir negatif, ia akan merasakan penderitaan pada saat menghadapi suatu kenyataan. Dengan demikian telah jelas bahwa suatu kejadian yang dirasa membahagiakan seseorang mungkin saja menjadi sesuatu keadaan yang menyedihkan bagi orang lain. Semua perbedaan tersebut timbul karena sudut pandang yang tidak sama dalam menghadapi serta menyikapi suatu kenyataan hidup yang sebenarnya netral tersebut.
Terdapat sangat banyak contoh untuk menjelaskan perbedaan kebahagiaan maupun penderitaan yang timbul pada diri seseorang akibat sudut pandang yang tidak sama. Namun, agar lebih mudah dimengerti, dalam kesempatan ini hanya diberikan satu contoh saja. Contoh yang paling jelas dan sederhana misalnya tentang uang senilai Rp. 100.000,- Uang seratus ribu, untuk seseorang, katakanlah bernama A yang mempunyai banyak keinginan tentunya tidak bisa mencukupi untuk memenuhi harapannya. Sebaliknya, untuk seseorang, katakanlah bernama B yang mempunyai lebih sedikit keinginan, maka uang tersebut sudah terasa berlebihan. Dalam hal ini, permasalahan hidup atas kepemilikan uang senilai seratus ribu seolah hanya dialami oleh A dan tidak oleh B. Oleh karena itu, pembahasan penyelesaikan masalah yang akan disampaikan berikut ini nantinya hanya melibatkan A, bukan B.
Merenungkan kondisi yang disampaikan dalam contoh di atas, kiranya dapat dimengerti bahwa seseorang, dalam hal ini A, merasa memiliki masalah hidup karena sebenarnya ia tidak memiliki kemampuan mengubah kenyataan yang telah terjadi dan bersifat netral tersebut, dalam hal ini, nilai uang seratus ribu. Salah satu cara yang diberikan dalam Dhamma Ajaran Sang Buddha adalah upaya mengubah cara berpikir seseorang agar ia selalu berpikir positif dalam menghadapi segala sesuatu sehingga ia akan selalu berbahagia pada kondisi apapun yang ia alami. Dengan demikian, ia akan dapat mengambil tindakan yang tepat dan sesuai untuk menghadapi kenyataan tersebut. Semakin seseorang mampu menyesuaikan keinginan dengan kenyataan, semakin bahagia pula hidup yang ia rasakan.
Agar seseorang mampu berlatih mengubah pola pikir sehingga ia memiliki ketrampilan menyesuaikan diri antara harapan yang ada dengan kenyataan yang terjadi sehingga terwujudlah kebahagiaan, maka ia hendaknya :
Berusaha melatih kerelaan
Kerelaan (dana) adalah salah satu dari tiga pilar pokok Ajaran Sang Buddha di samping kemoralan (sila) dan konsentrasi (samadhi).
Pada tahap awal, kerelaan dilatih dengan menggunakan materi sebagai sarana. Misalnya, apabila ia memiliki makanan, ia dapat membagikan makanan tersebut kepada mereka yang membutuhkannya. Demikian pula apabila ia memiliki pakaian, sarana kesehatan dsb. Latihan kerelaan atau memberi kepada yang membutuhkan tersebut diharapkan menimbulkan kondisi batin untuk selalu mengharapkan fihak lain mendapat serta merasakan kebahagiaan.
Selama melaksanakan latihan kerelaan dengan materi, seseorang hendaknya juga melaksanakan latihan kerelaan dengan hal-hal yang bukan materi. Sebagian kecil contoh kerelaan akan hal yang bukan materi misalnya, perhatian, kasih sayang, nasehat, pemikiran positif dsb. Dengan melaksanakan latihan kerelaan akan hal yang bukan materi, seseorang semakin banyak dilatih untuk memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan fihak lain selain dirinya sendiri.
Dengan memikirkan kesejahteraan serta kebahagiaan fihak lain, maka seseorang mulai belajar merelakan keakuan atau kebutuhan memuaskan diri. Oleh karena itu, apabila keinginan yang juga merupakan hasil keakuan tidak terpuaskan, maka ia akan lebih mudah menyesuaikan harapan dengan kenyataan. Ia telah terbiasa rela. Ia lebih mudah menerima kenyataan sebagaimana adanya. Bila tahap ini tercapai, maka kebahagiaan akan selalu dapat dirasakan terlepas dari kenyataan apapun juga yang sedang ia hadapi maupun temui dalam kehidupannya.
Dalam mengembangkan proses berlatih kerelaan yang merupakan salah satu cara berpikir Buddhis untuk menghadapi masalah hidup, maka berikut ini akan disampaikan tiga hal yang perlu dilakukan sehingga kebahagiaan dapat terwujud.
1. Rela mengurangi keinginan
Ketika harapan ataupun keinginan tidak bisa menjadi kenyataan, maka seseorang hendaknya mulai meninjau dan mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan yang ia miliki selama ini. Ia hendaknya lebih mendahulukan kebutuhan daripada keinginan. Apabila kebutuhan sudah terpenuhi, barulah keinginan disusun berdasarkan tingkat kepentingannya untuk mendapatkan pemenuhan. Dengan mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, tentu sudah cukup banyak masalah kehidupan yang dapat diselesaikan.
Sebagai contoh, A dengan uang senilai seratus ribu, mungkin hanya bisa memenuhi empat kebutuhan pokoknya terlebih dahulu, yaitu makanan, tempat tinggal, pakaian serta sarana kesehatan. Setelah semua atau sebagian dari kebutuhan pokok ini dapat terpenuhi, barulah ia memikirkan untuk memenuhi keinginannya, misalnya membeli handphone, memiliki sepeda motor dsb. Bila memang belum ada kesempatan untuk memenuhi keinginan, maka biarlah ia menunda terlebih dahulu keinginan yang ada dalam pikirannya. Inilah kerelaan mengurangi keinginan yang dapat mengurangi masalah hidup serta menumbuhkan kebahagiaan dengan apapun kenyataan yang dihadapi.
2. Rela meningkatkan kualitas kerja
Memiliki uang senilai seratus ribu mungkin saja dirasa tidak cukup, namun itulah kenyataannya. Karena itu, dengan meningkatkan kualitas kerja atau lebih giat bekerja, mungkin saja dalam beberapa waktu kemudian nilai uang tersebut dapat bertambah dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok serta sebagian keinginan yang dimiliki.
3. Rela menggunakan lebih banyak waktu untuk mencapai tujuan
Bila A merasa uang senilai seratus ribu itu tidak bisa memenuhi kebutuhan apalagi keinginannya, maka ia hendaknya belajar bersahabat dengan waktu sehingga seiring dengan bertambahnya waktu dan kerja keras yang dilakukan, uang yang diperoleh menjadi lebih banyak, pada akhirnya kebutuhan maupun sebagian keinginannya dapat terpenuhi.
4. Gabungan dari ketiga bentuk kerelaan di atas
Dengan menggabungkan ketiga bentuk kerelaan yaitu rela mengurangi keinginan, rela meningkatkan kualitas kerja dan rela bersabar, maka tentu lebih banyak lagi masalah hidup yang dapat terselesaikan sehingga kebahagiaan yang dimiliki lebih mudah dicapai.